“Ngeliat Mas Lingga itu mirip anak mantu saya. Iya bener lho, Mas, temen saya juga bilang begitu. Anak mantu saya itu juga anu… Tionghoa.” Sebut saja Mbak Ani, seorang pekerja seks, berkata kepada saya saat menunggu persiapan pemutaran video komunitas yang ia dan kawan-kawannya buat.
Saya tidak terlalu terkejut mendengar kata terakhirnya. Entah, padahal saya Sunda tulen (sampai kakek nenek, saya yakin mereka Sunda, ke atas-atasnya mana saya tahu), tapi beberapa orang pikir saya China. Bahkan, pernah saya dikira turis Jepang saat saya di Bali! Bagi saya itu bukan soal. Hanya heran saja kok orang bisa dengan mudahnya mengidentifikasi saya sebagai orang Asia Timur. Lebih heran lagi kalau ada orang yang terkaget-kaget begitu saya bilang saya muslim. Memangnya muka mencerminkan keyakinan seseorang?
Bukan… bukan soal muka saya yang mengandung unsur China yang ingin saya ceritakan kali ini. Saya justru ingin bercerita tentang Mbak-mbak yang saya hormati, para perempuan pekerja seks. Mbak Ani adalah salah satu yang saya kenal. Tidak terlalu kenal, sebetulnya, karena di LSM tempat saya kerja, saya bukan orang lapangan. Interaksi saya dengan komunitas biasanya ketika ada event tertentu atau pas ada program divisi saya yang langsung berhubungan dengan komunitas, video komunitas ini contohnya.
Seperti kebanyakan orang yang dijejali nilai-nilai normatif semu atas nama agama, pada awalnya saya juga memicingkan mata terhadap mereka. Beruntunglah saya mau membuka sedikit saja hati saya untuk mendengarkan dan melihat mereka lebih dekat lagi. Perbincangan singkat saya dengan Mbak Ani di sore itu memberi tambah bukaan mata hati saya. Ia menceritakan anak perempuannya yang menikah dengan seorang Tionghoa, Kristen. Masalah muncul ketika mereka berdua memiliki anak. Anaknya mau ikut bapaknya atau ibunya yang muslim? Saya bilang aja dengan enteng, ”Ya terserah anaknya aja, Mbak, biar dia yang milih…” Komentar saya ditanggapi dengan tatapan hei-dia-anak-kecil-tahu-apa-soal-agama. Mengalihkan pembicaraan, Mbak Ani lalu menceritakan sikap besannya yang berbeda 180 derajat. Si bapak sayang betul dengan menantunya, anak perempuan Mbak Ani. Sayangnya seperti pada anak sendiri, begitu kata Mbak Ani. Sebaliknya, sang ibu, isteri bapak mertua baik hati itu, tidak pernah suka dengan orang Jawa, termasuk menantu perempuannya.
Kehidupan Mbak Ani tentu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Kompleks. Namun tentu saja ada hal lain yang membuat ia ”berbeda”. Profesinya masih dianggap miring oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, ia bekerja sebagai pekerja seks pun bukan untuk berfoya-foya, tapi untuk menghidupi 4 orang anaknya (anak tertuanya mungkin sudah tidak ia tanggung lagi). Menyekolahkan mereka, memberikan mereka makan, dan jajan tentu saja. ”Ya mereka nggak tahu kerjaan ibunya apa. Saya juga nggak pengen anak perempuan saya ngikuti saya,” katanya. Lebih kompleks. Tak mungkin seorang pegawai bank, sekretaris, dokter harus menutupi pekerjaannya pada anaknya sendiri. Tak ada beban buat mereka.
Kebanyakan pekerja seks yang saya temui mengatakan kalau mereka sebenarnya tidak mau berprofesi seperti itu. Agak kontras memang jika disandingkan dengan ideologi yang sedang dibangun di lembaga saya bekerja: pekerja seks sebagai sebuah identitas, sebuah profesi. Tentu ada alasan di balik ideologi tersebut. Dengan diakuinya pekerja seks sebagai profesi, segala ketentuan ketenagakerjaan juga akan diberlakukan sama, termasuk perlindungan. Selama ini, mereka tidak pernah dilindungi oleh negara. Tengok saja ”acara” garukan yang dilakukan polisi atau satpol PP, baunya pasti kekerasan. Kata-kata kasar, pukulan, tarik paksa, seolah-olah dibenarkan demi tegaknya moral yang entah ukurannya apa. Belum lagi urusan klien yang minta ini itu tapi ogah pake kondom atau klien mabok yang ujung-ujungnya gak mau bayar.
”Keterpaksaan” adalah salah satu alasan mengapa beberapa perempuan akhirnya menjadi pekerja seks. Keterpaksaan ini biasanya menyangkut urusan ekonomi. Tidak bisa bekerja karena tidak ada keahlian. Tidak punya keahlian karena tidak punya kesempatan mengenyam bangku pendidikan. Tidak bisa sekolah karena latar belakang keluarga miskin. Lingkaran seperti ini yang seharusnya pemerintah putus jika memang pemerintah ingin negaranya dianggap bersih dari pekerja seks. Dengan tidak melakukan pemiskinan terhadap warga negaranya, dengan menjamin akses pendidikan bagi semua warga negaranya, dengan menyediakan lapangan kerja bagi warga negaranya. Ibarat kita piara bunga di taman, kalau ada bunga lain yang tumbuh yang tidak kita inginkan, bukan bunganya yang terus-terusan kita potong. Kita cari akarnya. Ingat-ingat lagi apakah pernah salah tebar benih nggak. Atau malah jangan-jangan bunga itu hanya perlu dipindah posisinya agar membuat taman kita justru jadi tambah indah…