Saat Hujan..

Posted February 16, 2009 by galink
Categories: Uncategorized

Saya masih di kantor..

Biasa, jadi penghuni terakhir

Tiba-tiba hujan deras sekali dan saya repot mesti tutup pintu dan jendela takut ruangan kecipratan air. Eh, ternyata, di parkiran samping ruangan saya ada seorang ibu yang sedang berteduh bersama sepeda tuanya. Deg.. entah, setiap melihat perempuan paruh baya seperti itu, saya lalu teringat perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkan saya yang saya panggil “mama”.

Tidak, mama saya tidak bersepeda tua kemana-mana

Tapi mungkin ia pernah berteduh entah dimana saat hujan deras di perjalanan

Yang pasti ia yang selalu saya cari saat hujan deras disertai sambaran petir

Yang selalu saya cari saat listrik tiba-tiba mati dan saya menangis ketakutan

Yang membawakan lilin kecil walaupun tanpa nyanyian nina bobo

Kok saya kangen?

Saat saya silau dengan keadaan orang lain, Ia  selalu mengingatkan… “Jangan lihat ke atas, lihat ke bawah kamu.. sekeliling kamu..”

Saat saya berkeluh kesah tentang nasib,  Ia selalu mengatakan, “Hidup itu selalu berputar.. Kalau sudah pernah di atas, ya sekarang saatnya di bawah..”

Saat saya menentukan nasib, Ia selalu memberi semangat, “Ya, Mama cuma bisa mendoakan…”

Biasa menjadi tak biasa karena orang yang mengucapkannya bukan orang biasa-biasa, setidaknya bagi saya, Ia adalah orang yang luar biasa.

(lho kok lama-lama blog saya isinya curhat…)

Kerja di LSM (?)

Posted February 14, 2009 by galink
Categories: Uncategorized

Tags: ,

“Kerja dimana?”

“LSM.”

“Kerja kok di LSM?”

Beberapa kali pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya. Dari teman, keluarga, atau orang yang baru saya kenal di dalam kereta. Biasanya saya jawab, ya karena saya juga harus masuk tiap hari (meskipun gampang buat bolos), ada yang saya kerjakan (kadang lembur, kadang hanya becanda dengan kawan-kawan di kantor), dan ada pendapatan juga (walaupun sering merasa iri dengan teman yang kerja dengan gaji berjuta-juta).

Pertanyaan selanjutnya, “Kenapa kerja di LSM?” Untuk menghemat perbincangan, saya jawab saja, “Malas kerja kantoran.” Hehe.. Saya dulu pernah membuat list enaknya kerja di kantoran, salah satunya adalah kelenturan kerja di LSM. Mana bisa kerja kantoran (eh, saya juga kantoran dink.. maksudnya kantoran di pemerintah atau perusahaan) masuk kerja jam 11 siang, pake kaos oblong dan sendal jepit? Haha..

Idealisme. Sebenarnya, mungkin itu yang mendorong saya untuk kerja di LSM (saya tegaskan, “mungkin”, karena saya sendiri kadang masih menempatkan alasan “malas kerja kantoran” di urutan pertama). Di sini, mata saya terbuka begitu banyak orang yang tertindas karena sistem (stop! malah jadi diskusi berat). Bagi saya, yang ideal adalah, semua orang mendapatkan haknya. Dan cara mewujudkan idealisme tersebut ya dengan bekerja di LSM.

Baru kemarin-kemarin saya berpikir, kalaupun saya ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, apa iya saya harus kerja di LSM? Bisa juga tho saya bekerja di tempat lain, sambil menyebarkan isme saya, dan melakukan sesuatu yang ada gunanya buat masyarakat? Saya coba membayangkan, saya bekerja kantoran, berangkat jam 8 pagi, pulang jam 4-5 an.. mungkin masih lembur.. apa saya masih sempat?

Beberapa hari lalu saya SMS an dengan relawan baru, soal idealisme dan amanah (hah??).  Kami berbeda pendapat soal “amanah”.  Saya bilang, kalau ideologi itu ya berhubungan juga dengan cara kita melihat amanah tuh seperti apa. Bagi saya, menjalankan amanah ya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menolong orang lain yang masih tertindas. Kalau tidak salah, yang saya pelajari dulu, amanah bagi manusia adalah menebarkan kebajikan dan kebenaran di muka bumi. Bajik dan benar menurut siapa? Kalau kata kaum fundamental mungkin ya, “Menurut Tuhan, seperti ada dalam Kitab!” Nah, saya balik lagi.. Memangnya, kitabmu berbicara tentang apa? Benarkah penafsirannya selama ini? Apakah memang itu yang Tuhan inginkan? Belum lagi kalau urusannya sama kaum Agnostik dan Atheis.. walah.. tambah repot. Maka, bajik dan benar menurut saya ya yang tidak saling menyakiti, merugikan satu sama lain, semua orang dapat hidup dengan nyaman.

Twinkle Little Star

Posted February 14, 2009 by galink
Categories: Uncategorized

Tags: ,

….
I was sitting on the grass when the star came to me.
“I’ve been waiting for you for one hour! Where have you been?”
The star didn’t answer my question, he jumped to the top of tree and began to sing. I was so annoyed, but on the other hand, I adored his shining. It was so bright and I feel warm and comfort.
He said, “So, what’s going on? You look so terrible…”
I sighed, “It’s happen again. I’ve lost a lot of friends.”
“Have you ever counted how many friends you’ve lost?” the star said.
“No, it doesn’t matter, does it?” I answered.
“Yeah, it doesn’t matter. So, what’s the problem?” the star smiled at me.
“I feel so empty. I don’t have a friend that I can share with anymore…”
“Hoo… so what am I?” the star acted like a child.
I laughed, “You are a star. We are different, right? I mean.. I don’t have a human – friends anymore. It’s impossible to ask you hang out in a coffee shop or discuss some movie that we have watched together, isn’t it?” I saw his face. He was thinking about something. Suddenly I realized that he didn’t know what coffee shop and movie are, but I didn’t care.
“I want to be like you, to be a star. There are many stars in the dark of night. You are never alone…” I continued.
“Let me tell you something and look at the sky. We seem together, but actually we are separated so far away. I know that I will never meet again with a star that I’ve ever met. For example, when I was going to this Earth, I met a beautiful star from Jupiter. We talked much about Mars, Saturn, and Black Hole. He was a great friend. But I realized that even I could get the same way to turn back, that beautiful star perhaps have crushed to some planets or some asteroids, or perhaps he banged because he got older. There is no mortality in this world. Something may and have to disappear, and a new one will come to you. It’s so natural. I think, you knew about this kind of universal law…” the star finished his words with a hard sigh.
“Yea… I know. But the hard thing is how to let your friend away from you… We have done many things together.” I remembered the last friend that gone. The star didn’t give a responsive word. He continued to sing his song… “twinkle… twinkle little star…”
…..

Masih tentang Isu Perempuan

Posted January 31, 2009 by galink
Categories: gender, human rights, reproductive health, sexuality

Saya baru pulang dari Jakarta, mengikuti sebuah workshop. Tapi bukan  workshopnya yang ingin saya ceritakan. Pada malam terakhir saya di Jakarta, kawan-kawan mengajak makan di daerah Kemang. Karena background kami semua dari NGO, obrolan pun tidak lepas dari topik hak azasi manusia, isu universal yang mengaitkan perbedaan ranah juang masing-masing lembaga. Perbincangan bergulir dari isu orang (di)hilang(kan), homoseksualitas, layanan kesehatan, dan macam-macam. Sampai pada topik yang sangat menarik, karena bagi beberapa orang, termasuk saya, informasi tersebut tergolong baru.

Seorang kawan dari Stigma, lembaga yang concern pada isu harm reduction NAPZA, menceritakan pengalamannya saat bekerja di lembaga lain. Job desc nya adalah mengunjungi lapas-lapas yang ada di Jakarta. Sudah rahasia umum (atau hanya beberapa gelintir orang saja yang tahu?) peredaran NAPZA di dalam penjara justru didukung oknum sipir yang mencari keuntungan dari para tahanan.

“Temen gw sampai ada yang nyolong sendal jepit terus ngotot minta dikasusin. Setelah gw tanya, alasan dia adalah: kan lebih enak di penjara, nyari barangnya gampang!” Penjara akhirnya menjadi solusi dari pengguna NAPZA untuk mendapatkan ‘barang’ dengan cara yang mudah! Gila! Itu alasan mengapa penjara memang tidak menjadi solusi bagi para korban pengguna NAPZA.

Perlakuan oknum polisi, yang katanya mengabdi pada masyarakat, jangan ditanya bagaimana bejatnya, terutama bagi para korban NAPZA. Korban NAPZA laki-laki (masih beruntung) mendapatkan kekerasan fisik dan verbal. Dipukul. Disulut rokok. Macem-macem..  Yang perempuan? Tragis.. Kawan saya menceritakan kisahnya sendiri ketika ia ditangkap polisi atas tuduhan pengguna NAPZA. Ia ditelanjangi di sebuah lapangan terbuka dan tidak boleh menutupi bagian tubuhnya. Selesai dipermalukan di depan banyak orang, ia digiring ke kantor polisi, ditelanjangi lagi!  Vaginanya dikorek-korek karena dianggap menjadi tempat menyembunyikan barang bukti. Punggungnya jadi asbak. Belum pukulan dan serangkaian kata-kata ‘mutiara’ dari mulut sang polisi. Polwan? Bukan. Polisi laki-laki. Polwan ada, hanya duduk-duduk. Dan tidak ada satupun yang mengenakan badge nama di bajunya, kecuali polisi yang bertugas membuat laporan.

Kasus kawannya lebih parah lagi. Sang kawan tertangkap bersama pacar laki-lakinya. Sang polisi lalu menawarkan solusi: tukar badan alias, “lo mau cowok lo bebas,  lo harus berhubungan seks sama gw.” Kasus ini kemudian dibawa ke Komnas Perempuan, yang kemudian hanya ditanggapi angin-anginan (“Malah diceramahi..”) Perempuan rupanya masih dilihat parsial bahkan oleh orang atau lembaga yang mengaku peduli pada isu perempuan

Masuk penjara, tahanan perempuan di lapas khusus perempuan nasibnya tambah ngenes. Contohnya untuk masalah pembalut. Di sebuah lapas, tahanan perempuan hanya mendapatkan handuk kecil (oya.. masih dipotong dibagi dua) sebagai pembalut saat mereka menstruasi. Handuk itu yang dipakai selama mereka dalam tahanan. Tidak diganti. Lho, memang tidak ada pembalut? Ada, harganya 3 kali lipat dari harga di luar lapas. Untuk urusan hubungan seksual, di lapas laki-laki biasanya diberikan waktu khusus bagi mereka yang sudah memiliki istri untuk melakukan hubungan seksual di dalam penjara. Di lapas perempuan? Tidak ada aturan itu. Perempuan masih dianggap aseksual, objek seksual.

Selipan aja, ada kasus juga belum lama ini di Jogja ketika seorang remaja jalanan perempuan yang hamil di luar nikah, meminta perlindungan hukum dari lembaga yang katanya concern pada isu perempuan. Hasilnya: ditolak karena dia tinggal di jalanan

Huff.. hanya ingin mengetuk orang-orang yang katanya pejuang isu perempuan.. Lesbian, korban NAPZA, perempuan jalanan, perempuan pekerja seks, perempuan difabel, transseksual male to female, buruh perempuan, perempuan Tionghoa, apakah harus dipisah-pisahkan jika memang terjadi kekerasan terhadap mereka?

bunga itu bernama pekerja seks

Posted December 11, 2008 by galink
Categories: gender, human rights

“Ngeliat Mas Lingga itu mirip anak mantu saya. Iya bener lho, Mas, temen saya juga bilang begitu. Anak mantu saya itu juga anu… Tionghoa.” Sebut saja Mbak Ani, seorang pekerja seks, berkata kepada saya saat menunggu persiapan pemutaran video komunitas yang ia dan kawan-kawannya buat.

Saya tidak terlalu terkejut mendengar kata terakhirnya. Entah, padahal saya Sunda tulen (sampai kakek nenek, saya yakin mereka Sunda, ke atas-atasnya mana saya tahu), tapi beberapa orang pikir saya China. Bahkan, pernah saya dikira turis Jepang saat saya di Bali! Bagi saya itu bukan soal. Hanya heran saja kok orang bisa dengan mudahnya mengidentifikasi saya sebagai orang Asia Timur. Lebih heran lagi kalau ada orang yang terkaget-kaget begitu saya bilang saya muslim. Memangnya muka mencerminkan keyakinan seseorang?

Bukan… bukan soal muka saya yang mengandung unsur China yang ingin saya ceritakan kali ini. Saya justru ingin bercerita tentang Mbak-mbak yang saya hormati, para perempuan pekerja seks. Mbak Ani adalah salah satu yang saya kenal. Tidak terlalu kenal, sebetulnya, karena di LSM tempat saya kerja, saya bukan orang lapangan. Interaksi saya dengan komunitas biasanya ketika ada event tertentu atau pas ada program divisi saya yang langsung berhubungan dengan komunitas, video komunitas ini contohnya.

Seperti kebanyakan orang yang dijejali nilai-nilai normatif semu atas nama agama, pada awalnya saya juga memicingkan mata terhadap mereka. Beruntunglah saya mau membuka sedikit saja hati saya untuk mendengarkan dan melihat mereka lebih dekat lagi. Perbincangan singkat saya dengan Mbak Ani di sore itu memberi tambah bukaan mata hati saya. Ia menceritakan anak perempuannya yang menikah dengan seorang Tionghoa, Kristen. Masalah muncul ketika mereka berdua memiliki anak. Anaknya mau ikut bapaknya atau ibunya yang muslim? Saya bilang aja dengan enteng, ”Ya terserah anaknya aja, Mbak, biar dia yang milih…” Komentar saya ditanggapi dengan tatapan hei-dia-anak-kecil-tahu-apa-soal-agama. Mengalihkan pembicaraan, Mbak Ani lalu menceritakan sikap besannya yang berbeda 180 derajat. Si bapak sayang betul dengan menantunya, anak perempuan Mbak Ani. Sayangnya seperti pada anak sendiri, begitu kata Mbak Ani. Sebaliknya, sang ibu, isteri bapak mertua baik hati itu, tidak pernah suka dengan orang Jawa, termasuk menantu perempuannya.

Kehidupan Mbak Ani tentu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Kompleks. Namun tentu saja ada hal lain yang membuat ia ”berbeda”. Profesinya masih dianggap miring oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, ia bekerja sebagai pekerja seks pun bukan untuk berfoya-foya, tapi untuk menghidupi 4 orang anaknya (anak tertuanya mungkin sudah tidak ia tanggung lagi). Menyekolahkan mereka, memberikan mereka makan, dan jajan tentu saja. ”Ya mereka nggak tahu kerjaan ibunya apa. Saya juga nggak pengen anak perempuan saya ngikuti saya,” katanya. Lebih kompleks. Tak mungkin seorang pegawai bank, sekretaris, dokter harus menutupi pekerjaannya pada anaknya sendiri. Tak ada beban buat mereka.

Kebanyakan pekerja seks yang saya temui mengatakan kalau mereka sebenarnya tidak mau berprofesi seperti itu. Agak kontras memang jika disandingkan dengan ideologi yang sedang dibangun di lembaga saya bekerja: pekerja seks sebagai sebuah identitas, sebuah profesi. Tentu ada alasan di balik ideologi tersebut. Dengan diakuinya pekerja seks sebagai profesi, segala ketentuan ketenagakerjaan juga akan diberlakukan sama, termasuk perlindungan. Selama ini, mereka tidak pernah dilindungi oleh negara. Tengok saja ”acara” garukan yang dilakukan polisi atau satpol PP, baunya pasti kekerasan. Kata-kata kasar, pukulan, tarik paksa, seolah-olah dibenarkan demi tegaknya moral yang entah ukurannya apa. Belum lagi urusan klien yang minta ini itu tapi ogah pake kondom atau klien mabok yang ujung-ujungnya gak mau bayar.

”Keterpaksaan” adalah salah satu alasan mengapa beberapa perempuan akhirnya menjadi pekerja seks. Keterpaksaan ini biasanya menyangkut urusan ekonomi. Tidak bisa bekerja karena tidak ada keahlian. Tidak punya keahlian karena tidak punya kesempatan mengenyam bangku pendidikan. Tidak bisa sekolah karena latar belakang keluarga miskin. Lingkaran seperti ini yang seharusnya pemerintah putus jika memang pemerintah ingin negaranya dianggap bersih dari pekerja seks. Dengan tidak melakukan pemiskinan terhadap warga negaranya, dengan menjamin akses pendidikan bagi semua warga negaranya, dengan menyediakan lapangan kerja bagi warga negaranya. Ibarat kita piara bunga di taman, kalau ada bunga lain yang tumbuh yang tidak kita inginkan, bukan bunganya yang terus-terusan kita potong. Kita cari akarnya. Ingat-ingat lagi apakah pernah salah tebar benih nggak. Atau malah jangan-jangan bunga itu hanya perlu dipindah posisinya agar membuat taman kita justru jadi tambah indah…

PKBI (Blog) Award

Posted November 11, 2008 by galink
Categories: Uncategorized

pkbi_award

Dalam rangka peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan – 25 November, Hari AIDS Sedunia – 1 Desember, dan Hari Hak Azasi Manusia – 10 Desember) PKBI- DIY akan memberikan Blog Award kepada blogger yang memiliki perhatian terhadap isu-isu kesehatan reproduksi, HIV-AIDS, gender, dan HAM.

Daftarkan atau rekomendasikan blog yang menurut anda pas untuk diikutsertakan dalam award ini bisa melalui halaman rekomendasi di http://pkbiaward.dagdigdug.com, atau mengirimkan ke email pkbi.award@gmail.com yang berisi alamat blog, beserta nama pemilik blog, cantumkan juga alamat pemilik blog jika anda mengetahui alamatnya.

Pendaftaran dibuka sejak tulisan ini dimuat hingga nanti tanggal 20 November 2008.

Info lebih lengkap buka http://pkbiaward.dagdigdug.com

Kampanye Bangkit dan Berbuat (SUTA 2008)

Posted October 17, 2008 by galink
Categories: Uncategorized

Pada tahun 2000, 189 kepala negara termasuk Indonesia mengikrarkan janji untuk menanggulangi kemiskinan dalam Pertemuan Tingat Tinggi PBB di New York. Janji tersebut dituangkan dalam deklarasi millenium atau yang dikenal dengan Millenium Development Goals (MDGs). Isi MDGs ini adalah:

  1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan.
  2. Memenuhi pendidikan dasar untuk semua.
  3. Mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan.
  4. Menurunkan angka kematian balita.
  5. Meningkatkan kualitas kesehatan ibu melahirkan.
  6. Memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lain.
  7. Menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup.
  8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Delapan tahun sudah sejak MDGS diikrarkan, namun belum tampak capaian konkret dari MDGs di Indonesia. Penduduk miskin di Indonesia mencapai 39 juta orang (17,75%) dari total penduduk sebesar 220 juta orang (BPS, Maret 2006). Masih banyak fasilitas- fasilitas pendidikan yang jauh dari layak. Kasus HIV dan AIDS terus meningkat. Angka kematian ibu masih tinggi. Penggundulan hutan semakin bertambah, dan pengabaian terhadap hak-hak kelompok minoritas masih terus berlangsung.

Kampanye BANGKIT DAN BERBUAT dilakukan serentak dalam waktu 3 X 24 jam pada tanggal 17-19 Oktober 2008 di berbagai belahan dunia secara bersamaan dengan nama STAND UP AND TAKE ACTION (SUTA) Campaign untuk mengingatkan pemerintah pada janji pemerintah untuk sungguh-sungguh mengerahkan semua upaya dan sumberdaya guna menanggulangi kemiskinan, melalui perbuatan konkret masyarakat secara luas serta untuk memperlihatkan perbuatan konkret yang dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia dengan mengangkat pesan yang sama yakni solidaritas, dukungan dan tindakan / perbuatan konkret bagi penanggulangan kemiskinan dan pencapaian tujuan pembangunan millenium. Kampanye BANGKIT DAN BERBUAT merupakan versi Indonesia dari STAND UP AND TAKE ACTION Campaign.

Kampanye global ini dilaksanakan menjelang peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional pada tanggal 17 Oktober. Selain itu juga bertepatan dengan Hari Gelang Putih bagi Seruan Global bagi Aksi Melawan Pemiskinan (White Band Day of the Global Call for Action Against Poverty).

RANGKAIAN KEGIATAN SUTA ALA PKBI DIY

1. Pengumpulan buku bekas dan baru sebanyak 5.000 buah
Kegiatan ini akan dilaksanakan mulai tanggal 10-19 Oktober 2008. Target dari kegiatan ini yaitu : Sekolah, Komunitas, LSM, Instansi pemerintah, Instansi swasta. Tujuan dari pengumpulan bekas dan baru ini untuk mendukung pembentukan perpustakaan komunitas.

2. Pengumpulan pesan remaja
PKBI DIY akan membuat post card sebanyak 5.000 lembar yang isinya pernyataan sikap remaja dan dukungan dari masyarakat. Post card ini akan disebarluaskan di: Sekolah, Komunitas , Ormas, LSM, Tempat nongkrong remaja. Pelaksanaan kegiatan ini akan dimulai tanggal 12-19 Oktober 2008. Tujuan dari pengumpulan pesan remaja ini sebagai media advokasi remaja kepada pemegang kebijakan.

3. Long March dan Orasi
Kegiatan ini akan dilaksanakan tanggal 18 Oktober 2008 pukul 16.00 WIB diikuti oleh organisasi-organisasi yang peduli dengan isu MDGs. Parade ini akan dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali sampai Monumen SO 1 Maret.

INGIN BERPARTISIPASI?

Hubungi:
Youth Center PKBI DIY
Jl. Taman Siswa Gang Basuki MG II/ 558 Surokarsan Yogyakarta
Telepon : 0274 – 419709
www.pkbi-diy.info