Harus Sama Dulu, Baru Bahagia?
Kemarin malam saya nonton Kick Andy. Kali itu yang dibahas soal orang-orang berbibir sumbing (agak berat saya menulis kata itu, tapi saya tidak menemukan kata lain). Campur aduk pikiran saya saat nonton tayangan tersebut. Pertama, senang melihat Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen bikin film lagi yang dibintangi pendatang baru, seorang anak berbibir sumbing. Film bermutu yang menjadi alternatif di tengah gempuran setan-setan di bioskop. Saya turut bahagia juga ketika beberapa orang berbibir sumbing bisa meraih mimpi mereka dan melakukan operasi bibirnya.
Nah, perkara operasi ini memang bikin saya bahagia, tapi seperti ada yang mengganjal di pikiran saya. Apalagi ketika Bung Andy bilang kebanyakan orang berbibir sumbing dilahirkan dari keluarga menengah ke bawah. Penyebabnya kebanyakan kurangnya gizi ibu saat bayi dalam kandungan. Nah lho… Saya membayangkan diri saya sendiri jika berbibir sumbing dan terlahir dalam keluarga kurang mampu. Nggak sanggup rasanya…
Saya hanya berpikir betapa sistem yang ada di dunia ini sungguh tidak adil. Dalam hal ini, skema sosial telah menempatkan orang-orang berbibir sumbing sebagai orang yang harus ‘diperbaiki’ alih-alih ada sistem lain yang bisa mengakomodir cara mereka berbicara. Dunia seakan tidak mau repot-repot belajar bagaimana agar bisa berkomunikasi secara baik dengan orang berbibir sumbing, yang ada justru orang-orang yang berbibir sumbing yang dibikin repot: kumpulkan uang sebanyak mungkin (atau cari donatur), lalu operasi bibir. Jangan lupakan segala cibiran dan ejekan yang diarahkan pada mereka sebelum mereka operasi. Gejala manusia yang terbiasa merendahkan orang yang secara fisik berbeda dengan kebanyakan orang.
“Kami tidak cacat. Kami juga tidak berbeda. Kami melakukan hal yang sama dengan yang orang lain lakukan, hanya caranya saja yang tidak sama,” kata seorang kawan difabel dulu ketika saya menjadi host sebuah acara di radio tentang difabilitas. Saya tertegun mendengarnya dan membenarkan apa yang ia katakan. Jika saya berjalan dengan dua kaki, dia berjalan dengan satu kaki dibantu kreuk. Pun demikian dengan orang dengan low vision. Jika saya membaca dengan dua mata saya, mereka membaca dengan jari-jari mereka. Atau orang yang kesulitan berbicara akan berkomunikasi dengan tangan mereka, tidak dengan bantuan lidah seperti yang biasa saya gunakan.
Difabel mainstreming mulai menjadi isu sekarang. Bahagianya saya ketika berkunjung ke kantor lama saya di Jogja, akses masuk kantor sudah lebih friendly buat teman-teman difabel. Kamar mandi pun dipindahkan ke area yang lebih luas sehingga teman-teman difabel yang menggunakan kursi roda tidak harus meninggalkan kursinya di depan pintu kamar mandi. Begitupun di kantor saya sekarang yang sedang ada sedikit renovasi. Satu jalur dibuat khusus untuk pengguna kursi roda. Beberapa pihak sudah mulai sadar bahwa memperlakukan mereka bukan dengan cara memaksakan mereka agar bisa mengikuti ‘aturan’ arus utama, tapi bagaimana arus utama bisa mengakomodir kebutuhan khusus mereka.
Apakah pengarusutamaan difabel ini tidak termasuk bibir sumbing di dalamnya?Atau mungkin sama seperti pengarusutamaan lainnya yang menjadi wacana, dipraktekkan oleh segelintir pihak saja, sementara kebanyakan masih saja memicingkan mata?
Saya agak bingung saat semua orang bertepuk tangan saat beberapa tamu di Kick Andy menceritakan bagaimana mereka setelah operasi. Saya merasa tepukan tangan itu bak, “Bagus, sekarang kamu sama seperti kami!” Saya mungkin yang akan bertepuk tangan paling keras jika justru ada seorang berbibir sumbing yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi dan tetap bisa sukses. Applause untuknya dan untuk orang-orang yang memberikan dukungan.
Saya teringat satu bagian di bukunya Bikhu Parekh tentang seorang yang harus menggunakan alat bantu dengar. Ia menolak operasi telinga, yang sangat mungkin dilakukan pada kasusnya. Alasannya adalah jika ia melakukan operasi itu, ia merasa ia akan kehilangan identitasnya sebagai IA. Ia merasa tidak akan lagi menjadi dirinya. Lebih dari itu, ia tidak akan bisa lagi menyuarakan kepentingan kawan-kawannya yang difabel dari sisi seorang yang difabel juga.
Bukan, bukan berarti saya akan berteriak menolak adanya operasi bibir sumbing. Setiap orang berhak memilih. Jika orang akan mendapatkan kebahagiaan melalui operasi, silakan dilakukan. Tapi masalahnya kemudian menjadi pelik saat ada orang yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi, entah alasannya apa, kemudian mendapatkan perlakuan diskriminatif dan cenderung berujung pada kekerasan psikis: dicemooh, diejek, tidak diterima bekerja dan sebagainya. Saya membayangkan satu dunia ideal dimana setiap orang menaruh penghargaan atas perbedaan. Urusan memilih tidak lagi dicampuri oleh indikator-indikator tentang kebahagiaan yang diciptakan oleh sistem sosial, namun muncul dari bukan hanya keinginan, tapi juga disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Seorang berbibir sumbing yang mungkin tidak mempunyai uang untuk melakukan operasi, tidak perlu lagi merasa rendah diri.


saya rekomendasikan untuk dikirim di Andy F Noya melalui websitenya. aku gak pake senyum lho ini. (kutahan membubuhi emoticon di belakangnya dengan susah payah)
hahaha… silakan, Mbak.. saya sih penggemar Kick Andy, jadi ga masalah (kali suatu waktu diundang ke acaranya hehehe..)
saya jadi teringat omongan seorang teman, bahwa setiap orang itu berkemungkinan menjadi difabel (ah, ada gak ya bahasa lain?). -> belajar bagaimana bisa menghargai perbedaan.
@terejana: menarik.. menarik.. setiap orang berkemungkinan menjadi difabel, terima kasih atas kalimat bijaknya =)
anda tidak pernah menjadi orang yang berbeda, jadi anda bisa berkata se ringan itu….
orang “berbibir Sumbing” jelas ingin merasa sama dengan yang lain, kami(termasuk saya) merasa seperti orang lain jika belum operasi. kami jarang bercermin, kami hanya tidak ingin sedih ketika melihat wajah kami seendiri di cermin,,, walaupun operasi tidak membawa perubahan yang sangat besar, namun dengan itu kami bisa lebih rileks dalam melakukan semua aktifitas, kami bisa lebih tenang , enjoy dan semangat…….
masih banyak yang ingin saya sampaikan tapi itu inti nya……
@hida: Terima kasih atas komentarnya. Ya memang, saya tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, mengalami dengan tepat perasaan teman-teman yang “berbibir sumbing”. Sebetulnya, dalam tulisan tersebut saya hanya ingin mengajak kita bersama-sama memikirkan ulang kebiasaan kita untuk menggeneralisir bagaimana caranya agar bahagia, yaitu -seperti yang diyakini banyak orang- adalah dengan menjadi sama dengan mayoritas. Mungkin karena saya diberikan kesempatan bertemu dengan orang-orang yang bisa sangat menerima kondisi yang mereka miliki, bahkan merasa bangga atas hal itu, saya bisa menulis seperti itu. Tapi ya, jalan orang mencari kebahagiaan itu berbeda-beda.
Oya, siapa bilang saya tidak memiliki perbedaan dengan masyarakat mainstream? Saya tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas yang dalam setiap proses kehidupan saya selalu mendapatkan ‘tekanan’ untuk menjadi seperti mereka. Hanya saja masalah kita berbeda (soal berat dan ringan itu subjektif).