Kerja di LSM (?)
“Kerja dimana?”
“LSM.”
“Kerja kok di LSM?”
Beberapa kali pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya. Dari teman, keluarga, atau orang yang baru saya kenal di dalam kereta. Biasanya saya jawab, ya karena saya juga harus masuk tiap hari (meskipun gampang buat bolos), ada yang saya kerjakan (kadang lembur, kadang hanya becanda dengan kawan-kawan di kantor), dan ada pendapatan juga (walaupun sering merasa iri dengan teman yang kerja dengan gaji berjuta-juta).
Pertanyaan selanjutnya, “Kenapa kerja di LSM?” Untuk menghemat perbincangan, saya jawab saja, “Malas kerja kantoran.” Hehe.. Saya dulu pernah membuat list enaknya kerja di kantoran, salah satunya adalah kelenturan kerja di LSM. Mana bisa kerja kantoran (eh, saya juga kantoran dink.. maksudnya kantoran di pemerintah atau perusahaan) masuk kerja jam 11 siang, pake kaos oblong dan sendal jepit? Haha..
Idealisme. Sebenarnya, mungkin itu yang mendorong saya untuk kerja di LSM (saya tegaskan, “mungkin”, karena saya sendiri kadang masih menempatkan alasan “malas kerja kantoran” di urutan pertama). Di sini, mata saya terbuka begitu banyak orang yang tertindas karena sistem (stop! malah jadi diskusi berat). Bagi saya, yang ideal adalah, semua orang mendapatkan haknya. Dan cara mewujudkan idealisme tersebut ya dengan bekerja di LSM.
Baru kemarin-kemarin saya berpikir, kalaupun saya ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, apa iya saya harus kerja di LSM? Bisa juga tho saya bekerja di tempat lain, sambil menyebarkan isme saya, dan melakukan sesuatu yang ada gunanya buat masyarakat? Saya coba membayangkan, saya bekerja kantoran, berangkat jam 8 pagi, pulang jam 4-5 an.. mungkin masih lembur.. apa saya masih sempat?
Beberapa hari lalu saya SMS an dengan relawan baru, soal idealisme dan amanah (hah??). Kami berbeda pendapat soal “amanah”. Saya bilang, kalau ideologi itu ya berhubungan juga dengan cara kita melihat amanah tuh seperti apa. Bagi saya, menjalankan amanah ya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menolong orang lain yang masih tertindas. Kalau tidak salah, yang saya pelajari dulu, amanah bagi manusia adalah menebarkan kebajikan dan kebenaran di muka bumi. Bajik dan benar menurut siapa? Kalau kata kaum fundamental mungkin ya, “Menurut Tuhan, seperti ada dalam Kitab!” Nah, saya balik lagi.. Memangnya, kitabmu berbicara tentang apa? Benarkah penafsirannya selama ini? Apakah memang itu yang Tuhan inginkan? Belum lagi kalau urusannya sama kaum Agnostik dan Atheis.. walah.. tambah repot. Maka, bajik dan benar menurut saya ya yang tidak saling menyakiti, merugikan satu sama lain, semua orang dapat hidup dengan nyaman.
February 14, 2009 at 5:24 pm
pertama, mungkin kamu harus ganti jawaban…bukan “kerja di LSM”
diganti dengan “kerja di NGO”
orang yang nggak mudeng, bakal merespon dengan “oooo”. nanti ada pertanyaan lagi… “bergerak di bidang apa?”
maka jawablah; “kesehatan”. dan beres….heheheh…
owalahhh link… aku jadi merasa bersalah memojokkanmu dengan mengomporimu hengkang dari tempat mu bernaung sekarang…
ah, bukankah kalaupun kamu keluar, toh tetap bisa menjadi relawan? “rela dan tidak melawan?” heheheheheheh…..
February 15, 2009 at 9:19 pm
hehehe.. thanks for the comment.. tapi kalo bilang di NGO, orang malah tambah gak mudheng secara NGO itu cuma familiar di perkotaan menengah ke atas hehehe.. haaalllaaah dibahas lagi xixixixi
May 14, 2009 at 8:44 am
emang beneran kerja di lsm karena idealisme? secara hari2 sekarang kan lsm juga kerjanya memburu ndoro funding dengan membuat kata2 indah yang di olah dalam proposal guna mendapat funding. apakah benar sasaran masih mengena atau hanya sekedar melancarkan keuangan guna menggaji staff2 lsm? sebenarnya kalo emang idealisme menurut saya kembali aja ke khitohnya, kerja jadi relawan dalam sebuah lsm dan di satu sisi tetap mencari uang karena ngga muna dalam hidup kita butuh uang. kan kalo anak2 lsm doyannya nongkrong di kafe. nah loh emang ngga ngerasa membelanjakan uang dari gaji yang note bone dari ndoro funding yang semestinya untuk program? karena menurut saya jadi kapitalis asal amsih ingat pada sesama entah dengan menyumbang atau jadi relawan lebih bagus mas…
May 27, 2009 at 6:16 pm
to sinta..
ya memang banyak LSM yang membuat proposal hanya untuk kepentingan staf, tapi saya yakin, LSM tempat saya sekarang bekerja tidak termasuk yang seperti itu, termasuk soal nongkrong di cafe.. walah mbak.. kita mah jarang banget nongkrong di cafe, kalopun iya ya urusan pribadi, duit pribadi hehehe…
sekarang sih sedang mencoba merintis usaha sendiri yang bisa freelance, biar pendapatan masuk, idealisme juga tetep jalan.. btw, pernah kerja di lsm juga? boleh nih sharing2 hehehe..
October 15, 2009 at 11:49 am
butuh info lowongan kerja di NGO/LSM khususnya yang berhubungan dengan gender/HIV AIDS.
terima kasih….
October 15, 2009 at 12:21 pm
Soal lowongan di NGO, gabung aja di mailing list: devjobsindo@yahoogroups.com
isinya tentang lowongan-lowongan di NGO yang ada di Indonesia, baik lokal maupun internasional, semua isu ada. Tapi beberapa kawan ada yang tidak berhasil join di milis itu, kalo anda juga mengalami, kabari saya saja, nanti saya set forward setiap ada kiriman dari
devjobsindo
November 16, 2009 at 12:38 pm
iya nidh kayaknya asik kerja di lsm ada yang bisa bantu g
November 16, 2009 at 5:28 pm
langsung daftar di milistnya aja ;p