2nd International Conference on Reproductive Health Management (ICRHM 2008)
Lebih dari satu dekade setelah Konferensi Internasional mengenai Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo dan tujuh tahun mengejar Millennium Development Goals (MDGs), banyak masyarakat, kelompok sosial dan organisasi pembangunan swasta yang terlibat dalam pemajuan kesehatan reproduksi. Mereka telah cukup memiliki pengalaman untuk mencapai hasil dan menciptakan dampak bagi masyarakat, sehingga dapat membantu pencapaian MDGs pada tahun 2015 nanti.
Manajemen Kesehatan Reproduksi (RHM) bagaimanapun memiliki posisi penting dalam peningkatan potensi-potensi dan kemampuan mendesain, menerapkan dan mendukung ide-ide khusus dan kreatif baik pada level individu, kelompok, dan institusi yang bekerja di sektor kesehatan reproduksi. Kemampuan manajemen ini setidaknya akan bisa memajukan penguasaan cara baca terhadap aspirasi dan kebutuhan mayarakat yang relevan sambil mengkontribusikan pada pencapaian MDGs.
Pemahaman ini melahirkan kebutuhan untuk mencoba berbagi pengalaman untuk mengembangkan strategi pengelolaan sehingga relevan dengan kebutuhan dan kepentingan rakyat. Untuk kebutuhan ini Pusat Kesehatan Reproduksi dan Pengembangan Asia Pasifik (APRHDC) Philipina, sebagai NGO Support Program (PHANSup) menginisiasi International Conference on Reproductive Health Management (ICRHM) I pada tahun 2006 di Manila. Tahun 2008 ini, Pemerintah Indonesia menjadi tuan rumah ICRHM II, tanggal 6-8 Mei di Bali, dengan tema”Bekerja Bersama untuk Mendapatkan Hasil dan Dampak”.
Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Mesir, Sri Lanka, India, Australia, dan lainnya, menjadi ajang berbagi keahlian terkini dan pengalaman-pengalaman dalam melaksanakan program kesehatan reproduksi untuk mencapai hasil dan dampak yang lebih baik.
Secara khusus, konferensi ini memberikan penekanan pada manajemen program Keluarga Berencana, selain menyoroti masalah-masalah kritis program kesehatan reproduksi, seperti akses, mutu, kepemimpinan, partisipasi masyarakat dan pemberdayaan kaum muda. Menurut Zahidul Huque, PhD, Country Representative, United Nations Population Fund (UNFPA) untuk Indonesia, penekanan pada Keluarga Berencana karena saat ini memang menjadi suatu hal kritis dalam pembangunan ekonomi dan penurunan kemiskinan. KB menunjukkan dampaknya dalam penurunan kematian ibu, menurunkan epidemic HIV-AIDS, meningkatkan mutu gender dan mempromosikan penguatan kaum muda. Akses yang lebih baik untuk metode kontrasepsi yang aman dan terjangkau akan mempercepat pencapaian MDGs. Karena itu tingkat pemerataan kontrasepsi (CPR) telah menjadi suatu indikator MDGs. ”Family Planning atau Keluarga Berencana merupakan salah satu kunci pokok dari tercapainya point-point lain dalam MDGs,” katanya pada pembukaan ICRHM 2008.
Rekomendasi ICRHM 2008
Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk memperkuat upaya pemerintah, anggota parlemen/ perwakilan rakyat, para praktisi, dan masyakarat sipil dalam menanggapi managemen kesehatan reproduksi. Para peserta konferensi ini diharapkan dapat mensosialisasikan dan mengimplementasikan rekomendasi tersebut di institusi dan negaranya masing-masing. Sembilan rekomendasi tersebut yaitu:
- Menyadari bahwa managemen kesehatan reproduksi, termasuk di dalamnya perencanaan keluarga, adalah hal penting dalam menjamin kesejahteraan manusia, dan menyadari pentingnya untuk terus meningkatkan program perencanaan keluarga yang menciptakan kualitas masyarakat yang lebih baik, melalui persiapan yang lebih baik bagi ibu dalam proses reproduksi yang sehat dan dengan mengintegrasikan fasilitas-fasilitas dan layanan-layanan dalam kesehatan reproduksi dengan fasilitas kesehatan lainnya; meningkatkan dukungan yang berkelanjutan dari dunia internasional, termasuk melalui peran aktif sistem PBB, khususnya UNFPA dan UNAIDS untuk secara aktif menangani permasalahan ini.
- Menyadari bahwa peran dari kepemimpinan dalam kesehatan reproduksi, khususnya dalam perencanaan keluarga adalah hal yang krusial di semua tingkat pemerintahan untuk menjamin semua orang dapat menerima pelayanan terbaik, dan mendorong para pemimpin di pemerintahan, perwakilan rakyat, LSM, sektor ekonomi, masyarakat lokal, dan organisasi keagamaan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan semua orang, khususnya perempuan dan anak melalui program perencanaan keluarga yang aplikatif
- Menekankan bahwa walaupun komitmen mengenai anggaran pada The Cairo Program and Action telah dipenuhi, namun perlu diperhatikan bahwa anggaran untuk program perencanaan keluarga menurun sebanyak 7% dari total anggaran, dan dalam hal ini mendorong lembaga donor untuk memberikan komitmennya yang berkaitan dengan Cairo Plan of Action
- Dengan memperhatikan meningkatnya jumlah perempuan dan anak-anak yang menjadi korban pemakaian narkoba suntik dan terinfeksi IMS, maka perlunya penekanan akan pentingnya penyatuan fasilitas reproduksi dan kesehatan untuk menjamin kebutuhan mereka dalam kesehatan reproduksi
- Menyerukan kepada semua stakeholder di semua tingkatan untuk mendukung kesehatan reproduksi, termasuk program perencanaan keluarga, melalui peningkatan kualitas kepemimpinan dan managemen; program medis, kesehatan, dan konseling yang lebih baik; modul-modul komunikasi dan pendidikan; serta dialog dan kampanye berkelanjutan mengenai pentingnya peningkatan kesejahteraan perempuan dan anak melalui perencanaan keluarga.
- Menyadari pentingnya peran dari anggota perwakilan rakyat dalam isu kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga serta mendorong partisipasi dan komitmen mereka dalam menjamin kesadaran dan pendidikan yang lebih baik dalam isu ini di semua tingkatan.
- Mendorong tersusunnya solusi bagi managemen kesehatan reproduksi di semua komponen dengan menyesuaikan perubahan-perubahan yang ada dalam pemerintahan, misalnya desentralisasi, dan menyadari pentingnya meletakkan isu global lainnya seperti kebutuhan pangan dan kerusakan lingkungan
- Mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat sipil, akademisi, LSM, dan media dalam mewujudkan pemahaman dan kesadaran yang lebih baik mengenai isu kesehatan reproduksi, termasuk perencanaan keluarga, dengan melakukan penyesuaian terhadap program-program kesepakatan mengenai pembangunan baik yang bersifat nasional maupun internasional.
- Mendorong semua stakeholder untuk memberdayakan remaja untuk berpartisipasi secara aktif dalam penyusunan program dan pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan remaja; dan mendorong terciptanya suatu lingkungan yang peduli pada akses remaja terhadap informasi kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga, khususnya melalui kurikulum sekolah dan layanan ramah remaja; dengan berdasarkan pada kelanjutan implementasi dari rekomendasi yang terdefinisi dalam Manila Youth Manifesto 2006.