Gender dalam Psikologi
Saya lulusan psikologi. Kebanggan tersendiri ketika bisa masuk fakultas yang diincar banyak orang ini. Namun ketika saya terjun di dunia nyata, tidak melulu berkutat dengan perkuliahan, saya menemukan bahwa ilmu psikologi yang selama ini saya banggakan ternyata justru memberikan efek negatif, tentu saja disamping efek positifnya (dan tentu hal ini tidak menarik untuk dibicarakan). Salah satu point yang saya cermati (baik itu dari hasil diskusi ataupun membaca beberapa buku, salah satunya adalah Psikologi Kritis-nya Dennis Fox) adalah: Bias gender
Saya pikir hampir semua ilmu pengetahuan pada mulanya disusun dan dirancang oleh kebanyakan laki-laki (mengingat perempuan masih tidak memiliki kesempatan yang sama besarnya di masa itu). Contoh paling mudah adalah teori yang diungkapkan seorang tokoh psikoanalis (filsuf, dan diakui keberadaannya dalam ranah psikologi), Sigmund Freud, tentang Odiepal Complex, yang nyata-nyata mengagungkan “penis”, sebagai sesuatu yang berpengaruh pada awal perkembangan manusia, sebagai sesuatu yang membuat manusia menjadi lengkap, dalam arti lain, menjatuhkan perempuan. Joaques Lacan yang mengkritisi hal ini dengan menggunakan istilah “phallus” sebagai pengganti “penis” dengan asumsi phallus memiliki makna yang lebih simbolik, tetap saja menunjukkan arogansinya terhadap perempuan (walaupun banyak feminis yang mendukung Lacan karena penggalian makna tersebut dari sudut pandang lain). Bagaimana penelitian-penelitian selanjutnya tentang perbedaan laki-laki dan perempuan banyak digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk membenarkan tindakan mereka yang semakin meminggirkan perempuan. Memang perbedaan itu terjadi, tapi, di luar hal-hal biologis tentunya, tentu saja ada pengaruh yang sangat besar dari lingkungan sosial yang patriarki yang membuat jurang pemisah antara laki-laki dan perempuan semakin lebar. Sayangnya, fakta tersebut masih kurang tergali.
Dalam mata kuliah psikologi abnormal, pada beberapa gangguan disebutkan bahwa gangguan tersebut lebih banyak dialami laki-laki atau perempuan, tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Apakah laki-laki memang memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi seorang ekshibisonist? Apakah perempuan memang memiliki potensi yang lebih besar untuk mengalami anorexia? Sekali lagi, jelas kalau sebenarnya lingkungan sosial memainkan peran disini.
Dalam psikologi perkembangan juga dibahas tentang peran model dari jenis kelamin yang sama yang akan mempengaruhi perkembangan anak. Jika lebih jauh dicermati, keharusan munculnya sosok jenis kelamin yang sama untuk mendoktrin cara bersikap dan berpikir anak sesuai jenis kelaminnya. Artinya, sejak awal, anak laki-laki sudah dianggap “seharusnya” maskulin seperti sang ayah, dan demikian sebaliknya. Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang cenderung feminin atau anak perempuan yang maskulin?
Sebenarnya, jika kita cermati, teori-teori tersebut sudah ketinggalan jaman. Dosen saya juga mendukung, misalnya, seorang anak itu sebaiknya dibebaskan untuk memilih mainan, tak peduli mainan yang sterotype laki-laki atau perempuan. Artinya ada celah bagi perkembangan anak untuk tidak secara kaku mengikuti aturan “kelaki-lakian dan keperempuanan” yang sekarang ada. Tapi, nyatanya toeri-teori psikologi klasik masih dijadikan acuan banyak orang.
Sebuah mata kuliah, Psikologi Gender, kemudian muncul di fakultas saya. Mungkin untuk menyikapi isu sosial tentang ketimpangan gender tersebut. Sayangnya, bagi saya, mata kuliah tersebut belum memunculkan apa yang seharusnya dilakukan psikologi untuk memberikan bantuan dalam kesetaraan gender. Fakta yang cukup menyenangkan adalah jumlah mahasiswa di fakultas atau jurusan psikologi biasanya didominasi perempuan (di satu sisi merupakan bukti masih adanya bias gender dalam hal jenis pendidikan dan pekerjaan), tentu kita berharap banyak dari kaum perempuan psikologi untuk bisa berbuat banyak memperbaiki keadaan ini.
October 23, 2008 at 3:59 pm
Halo, memang psikologi satu abad ini tidak lebih dari senjata modern untuk menindas!!! Seperti bagaimana membuat buruh dapat terus bekerja tanpa menaikkan upahnya, generalisasi kepribadian yang konyol untuk kita anak kampung dengan latar belakang religi, kekeluargaan dan mistik kental sampai bagaimana membuat seorang perempuan tetap inferior dengan tugas-tugas domestiknya.
Yang jelas tidak tersampaikan dalam kuliah, adalah bagaimana menjadikan psikologi sebagai ilmu yang berbasis realitas, tidak pernah menyentuh keterpurukan yang dialami kaum marginal di tingkat lokal. Dengan semena-mena mengajarkan ilmu tentang manusia walau generalisasi itu mustahil untuk pikiran manusia….
Gimana menurut anda, bila melakukan kajian dan penelitian psikologi terhadap kaum marginal dan tertindas, tidak sekedar untuk mencari tahu tapi pada bagimana membangun pemahaman menyeluruh terhadap masalah sosial dan pada akhirnya mampu membangun semangat untuk berjuang….
October 27, 2008 at 11:48 am
thanks buat commentnya..
btw, kuliah di psikologi juga ga? lagi nyari temen2 anak psikologi yang ga “mainstream” nih.. soalnya pengalaman kalau ketemu temen lama, obrolannya gak jauh dari kerjaan, gaji lah, konsultan ini, hrd dimana, bla bla ba… jadinya saya lebih sering cengok karena belum (gak tau besok2) tertarik buat terjun ke dunia kerja profit.
October 30, 2008 at 11:11 pm
Halo bung Galink, sy memang “bekas” mahasiswa psi…. ya betul itu jika ada teman-teman psi atau mantan psi yang punya perspektif kritis, jika mau membuat forum (ga cuma maya) untuk memperkuat terapannya. Sy sendiri tertarik untuk membuat penelitian dengan perspektif psi kritis hanya masih terkendala dengan lemahnya penerimaan dari akademisi psi terutama. baik tentang kaum marginal, kolektivitas maupun perempuan.
Salam….
October 31, 2008 at 11:28 am
bung sapto,
dulu saya pernah ikut milis psikologi kritis gitu juga (saya lupa milisnya apa).. tapi isinya buat saya terlalu teoritis, kurang membumi. ya betul.. akademisi yang ada masih terkungkung pola normatif yang tidak membebaskan. boleh tau blog bung sapto?
November 2, 2008 at 12:39 am
Ke email zapto_338@yahoo.co.id sj bunk Galink.
Blog-nya masih diperbaharui ini hehe….
January 17, 2009 at 2:23 am
Ya, seiring berjalannya waktu, perubahan trend, perubahan sikap manusia, teori-teori psikologi yg masih dipakai tampaknya sudah kelihatan usang. Apalagi dengan perbedaan budaya (meninjau teori-teori psikologi yg beredar saat ini adalah cerminan budaya di luar Indonesia), seharusnya Indonesia butuh psikologi-nya sendiri.
Mengenai psikologi gender yang tampaknya belum memberikan kontribusi untuk terciptanya kesetaraan gender, saya juga sepakat dengan anda.Psikologi gender tidak ubahnya hanya mengenalkan perilaku-perilaku berbasis gender pada berbagai segi kehidupan manusia, namun sama sekali belum memberikan pemecahan atas persoalan-persoalan yang terjadi di dalamnya