Percaya atau Tidak

Juni 30, 2011 5 komentar

Alkisah, saya menulis status di facebook saya:

seseorang yang sangat percaya pada ayat-ayat agama berkata kepada saya sore ini, “orang percaya begitu saja kalau bumi ini bulat, bagaimana kalau ternyata tidak?” #saya bingung

Seperti biasa, karena kawan-kawan saya yang rada serius agak langka, komentar yang bermunculan pun nyeleneh-nyeleneh (malah ada yang nggak nyambung), tapi ada juga yang serius karena teringat pada abad pertengahan saat para ilmuwan mengeluarkan wacana bumi itu bulat dan langsung disikat kaum gereja.

Gagal sudah saya mendapatkan jawaban (jelas saya katakan di status tersebut kalau saya sedang bingung), maka dengan ajian pamungkas saya kunci status itu dengan comment:

beberapa orang tidak percaya pada sesuatu yang buktinya jelas-jelas ada di depan mata, tapi lebih percaya pada sesuatu yang tak pernah dapat dibuktikan

(kali ini dengan embel-embel: #nglindur)

Kebingungan saya sebetulnya bukan pada orang yang berkata kepada saya di sore itu. Kebingungan saya adalah pada cara berpikir manusia. Orang bisa sangat percaya pada satu hal tapi bisa sangat tidak percaya pada hal lain, meskipun kedua-duanya tak ada bukti sama sekali. Karena saya masih menganggap diri saya ini manusia, saya contohkan saja saya sendiri.

Saya percaya kalau bumi itu bulat. Meskipun saya belum pernah pergi ke luar angkasa dan menyaksikan dengan kepala saya sendiri bagaimana bentuk bulatnya, tapi saya belajar dari sekolah, dari tivi, dari ‘katanya’ orang-orang. Semua sepakat kalau bumi itu bulat, kalau saya menentang, nasib saya bisa berujung di rumah sakit jiwa. Jadi, saya tidak akan percaya kalau ada orang tiba-tiba berteori kalau bumi ini berbentuk kerucut.

Saya tidak percaya kalau saya bukan anak kandung dua orang yang saya anggap ayah dan ibu saya sekarang. Meskipun saya tidak menyaksikan dengan kepala saya sendiri saat ayah saya memberikan sel spermanya pada ibu, pun tidak melihat ketika ibu saya berjuang mati-matian mengeluarkan badan saya dari rahimnya. Wajah saya dibilang identik dengan ibu tidak, dengan bapakpun tidak. Ukuran badan saya saja tidak seperti mereka. Tapi sampai detik ini tidak ada pasangan istri suami yang tiba-tiba datang membawa bukti-bukti kalau saya ini anak kandung mereka. Jadi saya percaya saja kalau orangtua kandung saya ya yang sekarang ini.

Soal percaya atau tidak itu agaknya tidak ada sangkut pautnya dengan logika. Tidak satu tambah satu sama dengan dua. Mungkin ya masih ada kaitannya, tapi faktor X lain sepertinya jauh lebih berperan. Awalnya saya pikir faktor X itu adalah rasa, dalam arti sense. Sang rasa itu yang kemudian justru mencari logika sebagai alibi untuk memperkuat apa yang ingin kita percaya. Rumit? Saya juga bingung. Begini, saat saya percaya bumi itu bulat, saya cari logika kalau bumi ini datar, entah sudah berapa kapal yang jatuh di lembah hitam, nyatanya mereka bisa kembali ke tempat asalnya. Saat saya meragukan siapa orangtua kandung saya, saya coba cari kemiripan sekecil apapun dengan orangtua saya sekarang. Ah, ternyata bentuk kuku jari saya mirip kuku jari ibu.

Bicara soal percaya atau tidak percaya, ujung-ujungnya bicara soal keyakinan, soal agama. Saya tidak percaya dengan konsep surga dan neraka yang dikisahkan kitab-kitab suci. Bukan karena tidak ada bukti atau saksi (agak seram juga kalau saya mesti bikin investigasi di kuburan), tapi karena ada hal lain, faktor X tadi, yang meyakinkan saya kalau mungkin konsep surga dan neraka yang dulu coba ayah saya tawarkan ada benarnya. Saya bilang mungkin karena saya juga tidak percaya begitu saja. Saya sedang berada di antaranya, percaya atau tidak. Meragukan, itu bahasa yang tepat.

Meragukan sesuatu, bagi saya bukan hal yang terlarang. Namun saya tersindir sendiri soal ragu dan meragukan ini. Saya bisa jadi sangat meragukan ketika ada orang datang dengan jurus-jurus dalil, namun mudah percaya pada apa yang saya baca dan sesuai dengan konteks kekinian. Saya sedang tebang pilih? Faktor ‘rasa’ itu tadi yang membuat saya melakukan tebang pilih. Saya saring hanya yang bisa menguatkan kepercayaan saya saja. Mau berbuih-buih seorang motivator bicara di depan saya, tapi kalau saya tahu nilai yang dia miliki berbeda dengan saya, motivasi yang dia berikan hanya akan jadi olok-olok saya. Bahasa facebooknya, saya akan ‘like’ status yang sesuai dengan saya, kalau perlu ikutan comment, tapi saya akan melewati begitu saja rombongan status yang memenuhi homepage karena menurut saya, itu bukan bagian dari saya.

Adanya saat meragukan menjadikan percaya atau tidak percaya sebagai sesuatu yang bukan hitam atau putih. Saya orang yang percaya kalau ada banyak tone abu-abu antara hitam dan putih. Sayangnya, kebanyakan orang menganggap meragukan dan mempertanyakan sesuatu yang sakral itu haram hukumnya. Bagi saya justru itu awal yang baik. Saat kita mulai meragukan sesuatu, kita akan mencari-cari, dan kecenderungannya mencari hal-hal yang mendukung apa yang sebelumnya kita percaya. Kita tidak akan terjebak pada apa yang ada di depan mata saja. Bukankah hidup itu melulu soal berproses? Kalau ternyata hasil pencarian kita berujung pada bukti-bukti yang justru menyangkal kepercayaan kita, bagaimana? Mungkin akan semakin kuat kepercayaan itu dan menganggap bukti-bukti yang ada itu palsu. Mungkin akan berpaling seratus delapan puluh derajat dari kepercayaan sebelumnya. Atau mungkin, memilih untuk percaya atau tidak percaya atau antara percaya dan tidak percaya.

#saya makin bingung

Categories: Uncategorized

Berdampingan Bersama Alam

Juni 22, 2011 Tinggalkan komentar

Baru saja saya membaca berita bertajuk “Pawang dari Badui Tangani Hama Kera” di kompas edisi online (bisa buka di sini). Tulisan itu membuat saya berpikir tentang dua hal, soal lingkungan dan soal suku Badui.

Meskipun saya tidak yakin 100 persen apakah Badui yang akan dimintai tolong oleh Pemerintah Gunung Kidul, Yogyakarta, tersebut adalah suku Badui yang selama ini menetap di Banten, tapi pikiran saya langsung tertuju ke sebuah suku yang lebih suka disebut urang Kanekes itu. Sampai sekarang, keinginan saya untuk pergi ke sana belum terpenuhi juga. Saya masih ingat, saat saya duduk di kelas 1 SMA, kakak-kakak kelas saya yang di jurusan IPS melakukan study tour ke Badui. Beberapa minggu kemudian, sekolah kami digegerkan oleh kedatangan seseorang berikat kepala namun tanpa alas kaki: seorang Badui!

Sontak ia menjadi pusat perhatian satu sekolah. Selain penampilan sederhananya yang cukup unik di mata kami-kami para remaja yang sedang gandrung dengan trend saat itu, kami juga penasaran dengan bagaimana caranya dia bisa sampai ke sekolah kami dengan berjalan kaki. Menurut pengakuannya, ia hanya mengikuti jalur kereta api ke arah timur dan karena kota tempat saya tinggal tidak dilalui kereta, kemudian ia berjalan sambil tidak henti-hentinya bertanya pada orang-orang yang ia temui.

Kami memperhatikan ketika ia membuka bekalnya, nasi ikan pindang yang dibungkus daun jati. Saat itu saya menganggapnya aneh, kuno dan ya… sedikit jorok. Begitulah saya dulu memandang orang-orang Badui secara umum. Perubahan pada cara berpikir saya sekarang telah membuat saya berpandangan hampir 180 derajat terhadap mereka.

Saya bertemu beberapa orang asing yang mengagumi budaya-budaya lokal di Indonesia. Ironis memang, saya harus disadarkan oleh orang berada jauh dari budaya-budaya itu. Saya mulai juga mengagumi kearifan-kearifan lokal yang ada dalam tradisi di beberapa suku di Indonesia. Mungkin juga, modernitas telah membuat saya sedikit jemu. Modernitas telah mengikis tidak hanya keindahan alam, namun juga nilai-nilai humanis. Kita kehilangan sisi manusiawi dan tercerabut dari akar kita: alam.

Suku Badui memiliki sistem kepercayan yang dikenal dengan nama Sunda Wiwitan, sunda asli, walaupun nama ini tentu perlu dikonfirmasi apakah diberikan oleh orang luar atau muncul dari tutur mereka sendiri. Konsekuensi dari keyakinan mereka adalah pada bagaimana mereka mengelola alam sekitarnya. Alih-alih menundukkan alam agar menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan, orang Badui justru memanfaatkan apa yang disediakan alam apa adanya. Misalnya dalam bertani atau membangun rumah, mereka tidak diperbolehkan mengubah struktur tanah. Tidak digunakannya sabun dan detergen untuk mandi dan mencuci, membuat alam tetap indah dan hijau. Kerinduan banyak manusia yang menghuni gedung-gedung dan dipengapi asap kendaraan setiap harinya.

Wajar jika kemudian mereka dianggap oleh Pemerintah Gunung Kidul mampu menangani kera yang dianggap hama karena mengganggu lahan pertanian penduduk. Suku Badui dididik untuk memiliki sense pada alam (karena saya percaya kalau rasa itu juga dikonstruksi oleh sosial). Mereka paham bagaimana berinteraksi dengan alam, bagaimana berkomunikasi dengan makhluk hidup lainnya. Bagi anda yang meyakini bahwa ada banyak macam kecerdasan manusia, mungkin ini yang disebut Howard Gardner sebagai Naturalist Intelligence, satu dari delapan konsep kecerdasan yang ia teorikan.

Saya justru ingin bertanya pada Pemerintah Gunung Kidul, apakah mereka bisa menganalisa kenapa sampai kera-kera berekor panjang itu menjarah lahan pertanian penduduk? Di berita itu dikatakan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat mengakui habitat kera telah rusak. Lantas, apakah solusi yang sudah dilakukan bisa menjawab akar masalah itu?

Saya membayangkan saya sebagai kera-kera itu. Hutan tempat saya tinggal semakin sempit karena dijadikan pemukiman dan lahan pertanian oleh manusia. Bukan tidak mungkin juga beberapa manusia datang ke hutan untuk mengambil kekayaannya, yang sebetulnya adalah ‘jatah’ saya sebagai kera. Sebagai kera, saya tidak mau suudzon kalau ada manusia usil yang suka mengganggu kawanan saya, mungkin menangkapi, dijadikan hewan buruan atau apapun, yang menjadikan saya dan kawan-kawan semakin berang dengan makhluk bernama manusia.

Saya bersyukur karena Pemerintah Gunung Kidul masih punya rasa untuk tidak menembaki kera-kera itu karena kasihan dan khawatir kalau serangan kera-kera itu akan menjadi-jadi. Namun memanggil orang Badui untuk menjadi ‘pawang’ kera-kera itu mungkin hanya akan jadi solusi sementara saja jika akar masalahnya tidak coba dipahami secara serius. Tidak sebagai pawang, orang-orang Badui mungkin bisa dijadikan sebagai guru yang akan mengajari kita bagaimana agar bisa hidup berdampingan dengan alam. Sudah saatnya kita tidak lagi angkuh merasa diri sebagai makhluk yang paling dari semua makhluk, lantas menjadikan itu sebagai pembenaran untuk berbuat semaunya pada makhluk lain. Pun, sudah tidak sepantasnya mengaku beradab jika kita memicingkan mata pada orang-orang yang justru dari mereka kita bisa belajar tentang kehidupan.

 

Bacaan tentang Suku Badui (atau Baduy):

Categories: Uncategorized

Harus Sama Dulu, Baru Bahagia?

Juni 18, 2011 6 komentar

Kemarin malam saya nonton Kick Andy. Kali itu yang dibahas soal orang-orang berbibir sumbing (agak berat saya menulis kata itu, tapi saya tidak menemukan kata lain). Campur aduk pikiran saya saat nonton tayangan tersebut. Pertama, senang melihat Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen bikin film lagi yang dibintangi pendatang baru, seorang anak berbibir sumbing. Film bermutu yang menjadi alternatif di tengah gempuran setan-setan di bioskop. Saya turut bahagia juga ketika beberapa orang berbibir sumbing bisa meraih mimpi mereka dan melakukan operasi bibirnya.

Nah, perkara operasi ini memang bikin saya bahagia, tapi seperti ada yang mengganjal di pikiran saya. Apalagi ketika Bung Andy bilang kebanyakan orang berbibir sumbing dilahirkan dari keluarga menengah ke bawah. Penyebabnya kebanyakan kurangnya gizi ibu saat bayi dalam kandungan. Nah lho… Saya membayangkan diri saya sendiri jika berbibir sumbing dan terlahir dalam keluarga kurang mampu. Nggak sanggup rasanya…

Saya hanya berpikir betapa sistem yang ada di dunia ini sungguh tidak adil. Dalam hal ini, skema sosial telah menempatkan orang-orang berbibir sumbing sebagai orang yang harus ‘diperbaiki’ alih-alih ada sistem lain yang bisa mengakomodir cara mereka berbicara. Dunia seakan tidak mau repot-repot belajar bagaimana agar bisa berkomunikasi secara baik dengan orang berbibir sumbing, yang ada justru orang-orang yang berbibir sumbing yang dibikin repot: kumpulkan uang sebanyak mungkin (atau cari donatur), lalu operasi bibir. Jangan lupakan segala cibiran dan ejekan yang diarahkan pada mereka sebelum mereka operasi. Gejala manusia yang terbiasa merendahkan orang yang secara fisik berbeda dengan kebanyakan orang.

“Kami tidak cacat. Kami juga tidak berbeda. Kami melakukan hal yang sama dengan yang orang lain lakukan, hanya caranya saja yang tidak sama,” kata seorang kawan difabel dulu ketika saya menjadi host sebuah acara di radio tentang difabilitas. Saya tertegun mendengarnya dan membenarkan apa yang ia katakan. Jika saya berjalan dengan dua kaki, dia berjalan dengan satu kaki dibantu kreuk. Pun demikian dengan orang dengan low vision. Jika saya membaca dengan dua mata saya, mereka membaca dengan jari-jari mereka. Atau orang yang kesulitan berbicara akan berkomunikasi dengan tangan mereka, tidak dengan bantuan lidah seperti yang biasa saya gunakan.

Difabel mainstreming mulai menjadi isu sekarang. Bahagianya saya ketika berkunjung ke kantor lama saya di Jogja, akses masuk kantor sudah lebih friendly buat teman-teman difabel. Kamar mandi pun dipindahkan ke area yang lebih luas sehingga teman-teman difabel yang menggunakan kursi roda tidak harus meninggalkan kursinya di depan pintu kamar mandi. Begitupun di kantor saya sekarang yang sedang ada sedikit renovasi. Satu jalur dibuat khusus untuk pengguna kursi roda. Beberapa pihak sudah mulai sadar bahwa memperlakukan mereka bukan dengan cara memaksakan mereka agar bisa mengikuti ‘aturan’ arus utama, tapi bagaimana arus utama bisa mengakomodir kebutuhan khusus mereka.

Apakah pengarusutamaan difabel ini tidak termasuk bibir sumbing di dalamnya?Atau mungkin sama seperti pengarusutamaan lainnya yang menjadi wacana, dipraktekkan oleh segelintir pihak saja, sementara kebanyakan masih saja memicingkan mata?

Saya agak bingung saat semua orang bertepuk tangan saat beberapa tamu di Kick Andy menceritakan bagaimana mereka setelah operasi. Saya merasa tepukan tangan itu bak, “Bagus, sekarang kamu sama seperti kami!” Saya mungkin yang akan bertepuk tangan paling keras jika justru ada seorang berbibir sumbing yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi dan tetap bisa sukses. Applause untuknya dan untuk orang-orang yang memberikan dukungan.

Saya teringat satu bagian di bukunya Bikhu Parekh tentang seorang yang harus menggunakan alat bantu dengar. Ia menolak operasi telinga, yang sangat mungkin dilakukan pada kasusnya. Alasannya adalah jika ia melakukan operasi itu, ia merasa ia akan kehilangan identitasnya sebagai IA. Ia merasa tidak akan lagi menjadi dirinya. Lebih dari itu, ia tidak akan bisa lagi menyuarakan kepentingan kawan-kawannya yang difabel dari sisi seorang yang difabel juga.

Bukan, bukan berarti saya akan berteriak menolak adanya operasi bibir sumbing. Setiap orang berhak memilih. Jika orang akan mendapatkan kebahagiaan melalui operasi, silakan dilakukan. Tapi masalahnya kemudian menjadi pelik saat ada orang yang memutuskan untuk tidak melakukan operasi, entah alasannya apa, kemudian mendapatkan perlakuan diskriminatif dan cenderung berujung pada kekerasan psikis: dicemooh, diejek, tidak diterima bekerja dan sebagainya. Saya membayangkan satu dunia ideal dimana setiap orang menaruh penghargaan atas perbedaan. Urusan memilih tidak lagi dicampuri oleh indikator-indikator tentang kebahagiaan yang diciptakan oleh sistem sosial, namun muncul dari bukan hanya keinginan, tapi juga disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Seorang berbibir sumbing yang mungkin tidak mempunyai uang untuk melakukan operasi, tidak perlu lagi merasa rendah diri.

Categories: Uncategorized

Lupa

Juni 17, 2011 Tinggalkan komentar

Urusan lupa sudah jamak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami kelupaan. Saya bilang hampir karena saya belum yakin anak-anak ‘cerdas’ yang bisa menghapal nama-nama pemimpin negara seluruh dunia, bisa menghapal rumus fisika dan kimia,  juga bisa lupa menaruh kaos kakinya dimana.

Saya sendiri boleh dibilang pelupa. Saya hampir (lagi-lagi hampir, karena kadang saya ingat) tidak bisa mengingat kata per kata buku yang baru saja saya baca. Sering takjub saya, jika ada teman yang bisa dengan lancar menceritakan cerita film komplit dari awal sampai akhir bahkan sambil mengutip beberapa dialog. Saya tidak mampu! Jangan ditanya berapa kali saya bertemu orang yang mukanya saya ingat tapi sampai akhir perbincangan saya tidak ingat siapa namanya. Tapi saya bersyukur karena masih ada ikan mas yang, katanya, daya ingatnya cuma 3 detik. Saya nggak parah-parah banget…

Perkara ingat-mengingat mungkin jadi kocak kalau misalnya ada orang yang memberikan kejutan ulang tahun pada kawan di hari yang bukan ulang tahunnya. Namun bisa juga jadi bencana kalau ada orang lupa mematikan api kompor dan berujung pada kebakaran satu kampung. Bisa juga jadinya biasa-biasa saja kalau lupa password email saking banyaknya akun. Ada juga orang yang pura-pura lupa sudah ambil uang rakyat lalu pergi ke luar negeri dengan alasan berobat, entah mengobati lupanya, hatinya atau hidung yang terlalu pesek.

Nah, yang ingin saya ceritakan ini soal lupa yang lain. Lupa yang dipaksakan. Meskipun seringnya kita tak ingin melupakan sesuatu: mandi, makan, dapat gaji dan sebagainya, namun ada kondisi tertentu yang membuat kita ingin sekali melupakan sesuatu.

“Kenapa orang seringnya justru tidak bisa melupakan sesuatu yang ingin dia lupakan? Saat sakit hati misalnya?” kata seorang kawan, sore ini, di akhir jam kantor. Saya yang sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaan karena ada undangan makan-makan sepulang kantor, menjawab, “mungkin karena dia sebetulnya menikmati mengingat sakit hatinya itu.” Anda geleng-geleng kepala? Saya juga. Tapi saya bicara karena ada kasus seorang kawan yang saya kira seperti itu. Sisi melankolisnya justru menjebak dia pada situasi dimana dia menikmati atmosfer saat dia sakit hati (bukan menikmati sakit hatinya lho).

“Atau mungkin karena memang sebenarnya dia tidak benar-benar ingin melupakan,” tambah saya.

“Atau karena masih ada dendam,” kawan saya yang lain menimpali, ketika ada seorang kawan yang dengan lantang memprotes kalau dia benar-benar ingin melupakan bayangan mantannya tapi masih saja ingat.

Masih ada “atau-atau” lainnya karena kemungkinan-kemungkinan seseorang gagal untuk melupakan sesuatu dalam hidupnya terentang mungkin melebihi Sabang sampai Merauke. Lalu ketika saya sampai rumah, saya baru ingat pada satu kemungkinan yang selama ini cukup saya percaya tapi sayangnya penyakit lupa saya kambuh saat percakapan dengan kawan-kawan, yaitu: tidak bisa melupakan justru karena kita terlalu berusaha untuk melupakan.

Begini teorinya: ketika kita berusaha untuk melupakan sesuatu, sebetulnya secara tidak langsung, otak kita memunculkan sesuatu tersebut, dan dengan bantuan jembatan keledai, merembet ke ingatan-ingatan lain yang berkaitan dengan sesuatu tersebut. Dan begitu terus dan begitu terus. Saya contohkan, saya ingin melupakan seorang DIA. Ketika saya berusaha sekuat tenaga, menanamkan dalam otak saya, “Saya harus lupakan DIA… saya harus lupakan DIA.” Apa yang terjadi? Dua kali DIA muncul lagi di otak saya. Bukan hanya kata DIA, sosok dan bentuk DIA juga digambarkan oleh otak, pun dengan memori ketika saya disakiti DIA, ketika saya belum disakiti DIA, ketika saya nonton konser bareng DIA, ketika saya pertama bertemu DIA, terus dan terus. Lalu bagaimana saya bisa melupakan DIA?

Karena itu, sebagai seorang yang mudah melupakan, saya bisa sarankan untuk just let move on. Lanjutkan kehidupan dan membuka hati. Tampak klise. Ya memang. Tapi kunci untuk tidak lagi terlalu berusaha sekuat tenaga melupakan bisa jadi mujarab jika, ini kata kawan saya, kita bisa dengan lapang dada menerima keadaan, yang bagi saya, bisa tercapai kalau segala urusan sudah diselesaikan. No more unfinished business. Katakan apa yang ingin terakhir kali dikatakan. Urusan pantas atau tidak, balik lagi ke nilai-nilai yang kita miliki.

Terus terang, saran saya cenderung menggampangkan. Selain kawan saya yang melankolis yang saya ceritakan di atas, saya juga pernah berhubungan dengan orang yang pendendam luar biasa. Untuk orang seperti ini, melupakan kesalahan yang telah orang lain lakukan terhadapnya bisa jadi mustahil. Masalah melupakan akhirnya bukan menjadi masalah kunci yang harus diselesaikan. Ada faktor X yang harus dibenahi dulu dalam dirinya. Oh, tunggu, kenapa lama-lama saya kayak motivator?

Satu yang pasti, bagi saya, melupakan secara total masa-masa suram adalah satu kerugian. Saya bisa belajar untuk memperbaiki diri dari masa-masa sulit itu, saya bisa bersyukur dengan keadaan saya yang lebih baik dari masa-masa itu dan mungkin, saya bisa menceritakan pengalaman bagaimana saya menghadapi masa-masa penuh kerikil itu pada orang yang sedang menghadapi masa-masa yang serupa dengan yang pernah saya alami.

Categories: Uncategorized

Tidak Sensitif Gender atau Mati Rasa?

Mei 20, 2011 2 komentar

Beberapa hari lalu, saya naik transjakarta dari Masjid Agung menuju Bank Indonesia. Saya janjian dengan teman-teman lama dari Jogja, sekedar bertemu dan mengupdate informasi terbaru, alias gosip hehe…

Di Masjid Agung, tidak banyak penumpang yang mengantri. Dalam bis juga tidak ada penumpang yang berdiri, bahkan masih ada beberapa bangku kosong. Maklum, halte pertama dari blok M. Namun ketika saya masuk bersama beberapa penumpang lain, saya memilih berdiri, biar lebih dekat AC. Hehe…  Sampai di halte Polda, mulai tampak kerumunan penumpang menanti bis. Penumpang yang keluar hanya 1-2 orang, tapi yang masuk bisa lebih dari satu tim basket jumlahnya, begitu terus sampai saya tiba di Bank Indonesia.

Satu hal yang membuat saya tergeleng-geleng adalah saat di halte Senayan, pasangan istri suami masuk dengan bayi mereka dalam gendongan ibunya. Karena sudah sesak, si istri berdiri di dekat saya sementara sang suami di belakangnya. Saya sempat tengak tengok mencoba mencarikan tempat duduk untuk si ibu. Mana tega lah melihat perempuan harus menggendong bayinya dalam bus yang penuh sesak. Beruntung ada laki-laki yang melihat ke arah saya dan menunjuk si perempuan yang sedang menggendong bayi. Ia menawarkan tempat duduknya. Saya bilang saja pada si perempuan kalau di belakang ada tempat duduk.

Cukup lama saya sibuk dengan SMS dari kawan lalu saya terkaget karena menemukan si perempuan masih saja berdiri dekat saya. Penasaran, saya tengok bangku yang tadi ditawarkan si laki-laki. Ternyata sudah diisi seorang perempuan lain yang sebelumnya berdiri di depan tempat duduk itu. Mungkin perempuan ini mengira si laki-laki sudah akan turun dari bis dan bangkunya bisa ia kuasai. Mungkin dia tidak meihat kalau sebelumnya sudah ada kode-kode yang disampaikan antara si laki-laki, saya dan perempuan yang menggendong bayi.

Yang membuat saya bingung adalah, deretan bangku di samping saya diisi oleh perempuan-perempuan remaja. Mungkin berusia 16-18 tahunan. Salah satunya yang duduk paling ujung, langsung berhadapan dengan si perempuan yang menggendong bayi. Sama sekali tak ada di antara mereka yang tergerak untuk memberikan ruang pada ibu dan bayi itu mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Saya benar-benar bingung. Selama ini saya, yang laki-laki, berusaha untuk berempati pada perempuan: bagaimana rasanya jika saya harus mengalami menstruasi setiap bulan yang kadang-kadang disertai kram, bagaimana rasanya saya harus hamil dan membawa perut buncit saya kemana-mana, bagaimana rasanya melahirkan, bagaimana rasanya harus mengasuh bayi dan menggendongnya setiap hari. Sampai kapanpun, saya tidak akan bisa merasakan itu, tapi bukan berarti saya tidak bisa memahaminya.

Saya bisa saja menyalahkan sang suami yang dengan entengnya membawakan tas bayi dan botol susunya, bukan si bayi yang bobotnya jelas lebih berat. Tapi di sisi lain, saya paham dengan budaya yang sudah terkonstruksi di masyarakat soal siapa yang (dibentuk) untuk menjaga dan mengasuh bayi. Laki-laki dalam hal ini juga korban. Korban dari sebuah sistem yang lebih besar dan mengglobal. Ataukah mungkin juga perempuan-perempuan muda itu juga sudah terkonstruksi dalam melihat bahwa perempuan yang menjadi ibu itu ya memang sudah seharusnya menggendong bayi. Seakan-akan itu adalah beban yang tanpa bisa kompromi lagi harus diterima oleh setiap perempuan yang memutuskan untuk melahirkan dan memiliki bayi.

Soal laki-laki yang menawarkan tempat duduknya pada si perempuan, saya juga tidak bisa bilang dia laki-laki yang sensitif gender.  Bukan tidak mungkin juga jika si laki-laki ini juga terkonstruksi oleh budaya yang ada, sebagai laki-laki yang harus menampilkan citra kuat dan mengayomi perempuan. Memberikan tempat duduk pada perempuan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan, secara tidak sadar, untuk menunjukkan ke’lelaki’an seseorang. Tapi bisa jadi juga, dia punya perasaan yang lebih sensitif. Mencoba merefleksikan atau mengasumsikan perempuan itu adalah ibunya, atau jika dia heteroseksual, mengasumsikan si perempuan itu sebagai pasangannya atau anaknya.

Nah, lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan muda yang sama sekali tidak tergerak hatinya? Saya rasa, untuk kasus ini bukan soal sensitif tidak sensitif gender, dengan beberapa alasan mengacu pada kemungkinan si laki-laki yang tidak sensitif gender tapi ada hal lain yang menggerakkannya untuk melakukan sesuatu kebaikan bagi perempuan. Mungkin ini hanya soal rasa. Matinya rasa kita sebagai manusia yang mencoba memahami bagaimana rasanya berada di posisi lain. Nah kalau sudah begini, Pendidikan Moral Pancasila, Pancasila dan Kewarganegaraan, atau apapunlah bungkusnya dengan isi yang itu-itu juga, agaknya tak ada gunanya. Saya ingat betul dulu ada satu soal dalam tes di sekolah dasar yang menanyakan: “Jika kamu sedang berada di dalam angkutan umum lalu ada nenek yang tidak mendapat tempat duduk, apa yang akan kamu lakukan?” Orang paling bodoh yang akan menjawab: “Membiarkan si nenek bergelantungan dan kena jambret”

Bagaimana dengan pendidikan agama? Maaf harus saya katakan, perempuan-perempuan muda yang duduk manis di bis itu separuhnya memakai atribut agama. Jadi pendidikan agama telah sangat berhasil mendoktrin siswa untuk percaya pada atribut dan ritual ketimbang soal hubungan antar manusia yang, bagi saya, justru disitulah esensi hidup manusia: menghargai dan menghormati manusia yang, kalau anda percaya Tuhan, adalah berarti menghargai dan menghormati Tuhan yang menciptakan manusia.

Saya lalu ingat berbincang-bincang dengan seorang kawan di kantor soal pendidikan di Indonesia. Sistemnya memang sudah hancur duluan. Mencoba menghasilkan sumber daya manusia yang tahu segala tapi tidak profesional. Kurikulumnya saja sudah dibongkar berulang kali, tapi hasilnya justru seperti sekarang. Mau menyalahkan arus informasi dari luar? Eits, kalau pondasinya sudah kuat, sudah mantap, mau angin sekencang apapun, tak akan tumbang saya rasa.

Categories: gender

Zona Nyaman

Tidak hanya sekali dua saya dengar ada orang memberikan nasihat pada yang lain, “Keluarlah dari zona nyamanmu!” Biasanya si orang yang dinasehati adalah orang yang sedang stuck dalam dunianya. Selalu mengeluh pada keadaannya namun tidak juga menunjukkan tanda-tanda untuk berubah.

Zona nyaman memang mengasyikan, namun seringkali membuat kita tumpul. Saya sedang tidak ingin berbusa-busa soal kemungkinan pengkonstruksian zona nyaman agar orang-orang menjadi tumpul dan memberikan kesempatan pada yang lain untuk memanfaatkan ketumpulan pikir mereka. Tidak, saya tidak ingin ngomongin itu dulu. Saya mulai dari yang sederhana dulu saja.

Saya boleh dibilang baru keluar dari zona nyaman. Tidak mudah memang. Sebelumnya saya tinggal di Yogyakarta, kota yang sangat nyaman untuk ditinggali, dengan pekerjaan yang menyenangkan. Perubahan besar dalam hidup saya (juga saya keluar dari zona nyaman yang lain), membuat saya berpikir bahwa kehidupan nyaman yang saya rasakan tidak akan membawa saya pada kehidupan yang lebih baik, dalam versi saya.

Keluar dari zona nyaman berarti menerima tantangan baru. Itu yang sedang saya rasakan sekarang. Namun, hal ini justru membuat saya berpikir ulang, haruskah saya keluar dari zona nyaman jika justru membuat hidup saya tidak nyaman? Bukankah tujuan perjalanan manusia adalah, mungkin salah satunya, mencari kenyamanan?

Mungkin, zona nyaman itu seperti gelas-gelas yang berjejer menanjak dengan selang air yang menyambungkan gelas yang satu dengan yang lain, menjadi tali kehidupan. Ketika satu gelas air sudah penuh, adalah tugas si air untuk mencari jalan melalui selang menuju gelas baru yang masih kosong. Jika tidak, tumpahlah air dalam gelas. Sia-sia apa yang kita dapat.

Bagi air, melewati tanjakan bukanlah kemampuannya. Tapi bukan juga sesuatu yang tidak mungkin. Ada mesin pompa lho! Hehe… Mencari pompanya itu yang seringkali sulit. Pompa yang mampu mendorong kita untuk bergerak naik. Pompa yang bisa membawa air pada satu gelas lain, mengisinya hingga kembali penuh dan terus dan terus.

Bagi air, pompa belumlah jaminan mampu membawanya dengan selamat menuju gelas baru. Perlu dipertimbangkan apakah selangnya baik-baik saja atau ada bocor sedikit atau di sana sini. Ini yang seringkali membuat kita ragu untuk bergerak. Ketakutan-ketakutan apakah selangnya cukup aman untuk kita lewati. Belum lagi ketakutan apakah gelas yang baru akan lebih besar, lebih bersih atau justru lebih kecil dan penuh lumut? Nah, mau tidak mau saya jadi kepikiran bahwa mungkin ketakutan-ketakutan itu juga diciptakan agar sebagian orang tetap berada di gelas yang terbawah.

Keluar dari zona nyaman untuk mencari zona nyaman baru, bagi saya itu tujuan saya. Hanya satu yang masih mengganjal, sampai zona nyaman mana dan seperti apa saya akan berhenti dan benar-benar nyaman?

Categories: Uncategorized

Hubungan Jarak Jauh, Kenapa Tidak?

April 7, 2011 3 komentar

Eits… Jangan memicingkan mata dulu. Mungkin Anda termasuk orang yang anti hubungan jarak jauh alias long distance relationship. Tidak tahan tidak bertemu. Susah mengatur waktu. Godaan kanan kiri. Membosankan. Mahal. Mungkin itu alasan mengapa orang langsung angkat tangan begitu mendengar ide hubungan jarak jauh ini. Tapi, buat orang yang percaya takdir, percaya cinta bisa datang kapan dan dimana saja, bagaimana bisa menolaknya? Buat orang yang tidak percaya takdir, tidak percaya cinta itu buta, menjalani hubungan jarak jauh mungkin adalah sebuah keputusan yang mau tidak mau harus diambil karena alasan tertentu.

Saya tidak akan memberikan tips bagaimana menjalani hubungan jarak jauh. Saya belum ahli. Saya hanya ingin mengembalikan ke makna sejatinya mengapa orang memutuskan (bagi yang percaya keputusan di tangan manusia) menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak hanya hubungan jarak jauh yang penuh tantangan, namun juga hubungan-hubungan lain yang tak kalah rumit tantangannya.

Misalnya saja, pagi ini di kantor saat saya baru saja datang dan langsung sibuk dengan daftar peserta pelatihan. Telinga saya sempat menangkap kawan-kawan saya asyik bercakap soal pernikahan beda agama. Buat saya, tidak ada masalah sama sekali. Menikah atau tidakpun bukan lagi soal. Namun berbeda dengan kawan-kawan saya yang masih memegang teguh ajaran agama.

“Itu namanya ujian cintanya lebih untuk siapa, untuk dirinya sendiri atau untuk Tuhan,” kata seorang kawan. Jelas maksudnya jika dia berada di posisi harus memilih, dia akan memilih Tuhannya. Kawan saya yang lain lantas mengatakan bahwa pernikahan dalam agama yang sama tidak menjamin kebahagiaan. Ya, mungkin dia yang sepakat bahwa pernikahan beda agama sah-sah saja.

Dengan terpaksa saya kaitkan dengan judul tulisan saya, agaknya saya berkesimpulan bahwa cinta tidak mengenal batas: usia, jenis kelamin, agama, bangsa dan juga jarak. Kita mungkin saja bermimpi memiliki pasangan ideal: usia sebaya, satu agama, dekat dalam dekapan, tapi kenyataan? Saya masih percaya Tuhan (walau lebih sering skeptis) dan percaya bahwa cinta adalah energi-Nya.

Karena kuasa Tuhan tak terbatas, demikian juga dengan cinta. Ia bisa hadir tanpa kita duga, mungkin di saat kita gemilang atau di saat kita terpuruk. Saat kita bertemu dengan orang yang kita rasa tepat, membuat kita nyaman dan ia juga merasakan hal yang sama terhadap kita, saat itulah kita berdaulat atas diri kita, mengambil keputusan: membuat hubungan atau tidak. Tidak ada yang mutlak, dua-duanya punya konsekuensi dan masa depan. Kita, sang pengambil keputusan, juga punya beragam latar belakang (seperti kawan-kawan saya itu) yang menjadikan nilai benar dan salah tidak absolut.

Karena cinta tak terbatas, demikian juga energinya. Terhubung secara spiritual, menurut saya, adalah saling mengirim energi positif satu sama lain, karena kita hidup di alam energi. Ibarat bangunan, sebuah hubungan butuh pondasi yang kuat sehingga halangan apapun tak akan ada artinya, termasuk jarak. Soal bagaimana menjalaninya, rumus komunikasi, negosiasi dan toleransi adalah bak pilar bagi bangunan itu.

Hubungan jarak jauh, ataupun dekat, intinya sama saja: cinta. Siapa bilang hubungan jarak dekat tak ada masalah? Silakan cari data di kantor catatan sipil, berapa banyak yang cerai karena alasan jarak. Jadi tidak usah berkecil hati bagi yang sedang, atau bimbang akan memutuskan untuk, menjalani hubungan jarak jauh. Kecanggihan teknologi telah menawarkan satu solusi. Namun, teknologi hanyalah alat untuk menghantarkan energi kita. Tanpanya, hubungan jarak jauh tetap tidak mustahil untuk dijalani. Pilihannya: mau atau tidak.

PS. Happy 8 Months Anniversary! =)

Categories: Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.