“Kemarin-kemarin Kemana Aja?”

Posted April 8, 2009 by galink
Categories: human rights

“Lho, gak pulang, Ga?” tanya teman kost saya ketika kami berpapasan di parkiran, Rabu malam.

“Nggak,” jawab saya pendek.

“Nggak nyontreng donk?” tanyanya lagi.

“Hehehe.. aku doain aja deh!” jawab saya kemudian yang lalu disambut tawa.

golputYa.. saya memutuskan golput di pemilu kali ini, alasannya? Pertama, saya tidak dapat undangan karena KTP saya bukan Jogja, sementara sudah hampir 7 tahun ini saya menetap di kota gudeg ini. Ya ya ya.. undangannya mungkin sampai ke rumah saya di Majalengka sana, tapi ya iya masak saya harus merelakan minimal 250 ribu buat ongkos perjalanan hanya untuk memberikan suara saya (yang saya aja nggak tahu siapa-siapa, apa programnya, apra caleg di sana). Ya ya ya.. kalau emang niat dan merasa sebagai warga negara yang baik ya diurus lah gimana caranya biar bisa ikut berpartisipasi di pesta demokrasi (pesta? masak… demokrasi?? yang bener aja!). Pemilu 2004, saya gak urus sana sini , KTP juga masih sama, tapi saya dapet kartu pemilu. Heran, kok sekarang nggak ada ya? Ternyata saya tak sendiri. Ada yang niat mau ikutan nyontreng, eh udah kelewatan tanggalnya. Yang lain dari saya juga ada. Udah almarhum, tapi masih terdaftar sebagai pemilih. Dimana lagi pemilu macam gini kalau nggak di Indonesia? Negara ku cihuy banget. Nah itu alasan pertama…

Alasan kedua, yang lebih idealis (atau maksa) adalah karena dari sekian caleg, parpol, dan tetek bengeknya, belum ada yang sreg tuh. Masak tetep dipaksa milih? Haram mana gak milih atau milih tapi gak ikhlas? Parpolnya buanyaaak betul, sampai saya kadang-kadang masih kaget kalau nemu media kampanye (yang bikin polusi mata) dari partai kecil nyelip di antara spanduk dan banner yang guede-guede, “Eh ada partai itu tho?” Selama ini kemana aja tuh partai? Jangankan yang masih bau kencur itu, partai-partai gede aja kalau pas lagi gak kampanye ya gak keliatan tuh. Mana yang katanya ngasih pendidikan politik buat rakyat sebagai tugas utama partai politik? Ya gak heran kalo kata ahli-ahli neh, golput di 2009 ini bakal mencapai 40-50% atau mungkin lebih. Buseeet.. Bikin partai baru bisa juara tuh! Alasannya ya paling karena rakyat udah muak sama janji-janji politik, udah gak ada yang percaya. Hayo, siapa yang gak bete kalau ada orang yang ngingkari janjinya ke kita? Giliran ada bencana, rame bikin tenda dan tak lupa mengibarkan bendera masing-masing. Terus juga soal sosialisasi, heboh dari coblos ke contreng aja gak kelar-kelar. Saya nggak tahu nih kok kesannya KPU tidak siap dengan pemilu tahun ini. Ketularan parpol kali ya hebohnya cuma pas menjelang pemilu. Empat tahun lebih sedikitnya dilupakan begitu saja.

Saya ingat betul beberapa hari sebelum parpol-parpol heboh kampanye, datang ke kantor saya seorang kader partai X pada Sabtu sore. Mencari direktur buat dimintain opininya soal politik. Saya bilang aja kalau direkturnya tidak berkantor yang sama dengan saya, jadi salah alamat. Salah jadwal jelas, Sabtu sore gitu lho.. Nggak dapet direkturnya, sang kader masih minta siapa aja orang yang ada yang bisa mewakili lembaga untuk berbicara. Kesan terburu-buru ngejar deadline langsung bisa saya baca. Sebentar… meskipun lembaga kami pra pemilu ini juga ikut heboh dengan kontrak politik, pendidikan politik untuk pemula, pelatihan ini itu buat caleg dan parpol, tapi kami tidak berafiliasi dengan salah satu partai pun. Saya akhirnya bilang, “Lho, kemarin-kemarin kemana aja?” Dia langsung pamit deh hehehe..

Selain spanduk yang ganggu mata, dengan tingkah caleg yang macem-macem (saya dikirimkan by email foto kampanye caleg dari yang mulai gaya artis, artis beneran, bawa-bawa anaknya yang artis, bawa silsilah keluarganya, berfoto bersama hewan kesayangan: macan, monyet, gaya pahlawan, gaya Obama, gaya petinju, sampai yang sok-sok an bilang: Jangan Pilih Saya.. huh, capek deh), segala jurus digunakan para caleg dan parpol buat menggaet massa. Tengok facebook, dipikirnya masyarakat kita yang terkoneksi internet berapa banyak sih, dari yang terkoneksi itu, berapa banyak yang punya dan rajin buka facebook, dan yang punya plus rajin facebookan itu berapa banyak juga yang tertarik. Gak tanggung-tanggung, sekitar 7-8 trilyun rupiah berputar dalam bisnis perkampanyean ini (buat auditnya aja ngabisin 1 trilyun, duit semua) Tadi siang lain lagi, saya dapat kampanye via SMS! Saya pikir cuma KPU yang punya modal sosialisasi macam itu. SMS yang saya terima bernada pantun mengajak memilih partai yang iklannya pernah dikritik karena bawa-bawa tokoh panutan partai lain, dan terakhir dianggap munafik oleh kawan-kawan di milis karena menampilkan pluralisme tapi banyak yang curiga partai itu punya hidden agenda menjadikan Indonesia negara dengan landasan satu agama. Saya bales aja (kurang kerjaan juga sih): “Emang partai anda bisa ngasih apa?”

Si Deus, Unde Malum?*

Posted March 11, 2009 by galink
Categories: books, philosophy, the air:faith, god, religion

(*Jika ada Tuhan, darimana datangnya kejahatan?)

Sebuah SMS masuk ke HP saya semalam. Dari seorang kawan, berbunyi:

“Seberapa yakin sih kamu tentang keberadaan Tuhan, bro? Kamu yakin Dia ada? Atau kata Nietzsche itu bener ya?”

Wah.. wah.. rupanya kawan saya sedang merasa ‘kecewa’ pada Tuhan, banyak kejadian dalam hidupnya yang membuat dia bertanya dimana Dia (serupa dengan saya). Filsafat “Tuhan Sudah Mati!” yang digaungkan Nietzsche rupanya sedang pelan-pelan merasuki alam pikiran kawan saya itu. Saya bilang kalau doktrin yang ditanamkan sejak saya kecil bahwa Tuhan itu ada menyulitkan saya sendiri untuk tidak meyakini keberadaan-Nya. Saya pikir banyak orang juga merasakan hal yang sama dengan saya. Dia lah Maha Akhir dari segala rasa penasaran kita terhadap kehidupan, Maha Akhir dari kepada-siapa-lagi-kita-berkeluh-kesah-ketika-tak-ada-seorangpun-sesuatupun-yang-bisa-memberi-rasa-nyaman.

Saya lalu ingat, sebuah buku yang saya beli beberapa bulan lalu baru saya baca separuhnya. Bukunya tidak tebal, tidak sampai 100 halaman, tapi saya keburu tertarik dengan beberapa buku lain. Buku berjudul “Jika Ada Tuhan Mengapa Ada Kejahatan” merupakan skripsi yang dibukukan karya Emanuel Bria. Saya berhenti membaca di bab ketiga karena agak pusing juga saya baca teori filsafat Alfred North Whitehead. Saya lalu buka lagi, sedikit baca-baca bab sebelumnya, saya langsung konsentrasi (sebetulnya sambil menunggu antrian) pada bab 4: tentang kejahatan.

“Tuhan mau menyingkirkan kejahatan dan Ia tidak mampu; atau Ia mampu dan tidak mau; atau Ia tidak mau dan juga tidak mampu; atau Ia mampu dan juga mau. Jika Ia mau dan tidak mampu, Ia lemah, yang berarti tidak sesuai dengan sifat Tuhan. Jika Ia mampu dan tidak mau, Ia jahat, yang berarti juga tidak sesuai dengan sifat-Nya; jika Ia tidak mampu dan juga tidak mau, Ia jahat dan lemah sekaligus, berarti Ia bukanlah Tuhan; jika Tuhan mau dan mampu, yang merupakan ciri paling cocok untuk-Nya, dari manakah asal semua kejahatan? Atau kenapa Ia tidak menyingkirkan kejahatan tersebut?” (Lactantius, 260-340 M mengutip Epikurus, 342-270 SM)

Itulah pertanyaan besar dalam pikiran para filsuf. Beberapa menjadi atheis dan agnostik, tapi ada juga yang makin mapan dengan agamanya untuk menunjukkan keyakinannya pada eksistensi Tuhan. Ada dua pendekatan dari kaum teis mengenai kejahatan. Pendekatan pertama disebut Apologi (Defense), yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa argumentasi nonteistik menyandang cacat dari dalam bangunan argumentasi mereka sendiri. Pendekatan yang kedua dikenal dengan Teodise, yang bertujuan untuk memberikan suatu dasar positif, masuk akal, dan adekuat mengenai adanya kejahatan dalam pemikiran teistik.

Thomas Aquinas, seorang Teodise Agustinian, berpendapat bahwa kejahatan bukan berasal dari Tuhan, tapi merupakan aksidential. Kejahatan adalah tiadanya kebaikan. Ciptaan Tuhan, karena berasal dari Yang Maha Baik, maka juga adalah kebaikan. Intinya, Tuhan bukan entitas yang bertanggung jawab atas kejahatan. Kejahatan tidak berasal dari Yang Maha Jahat, karena sifat kejahatan yang merusak akan menghancurkan secara total kejahatan itu sendiri. Selain Agustinian, teodise lain yang dikupas dalam buku ini adalah Teodise Irenean yang dipopulerkan oleh John Hick (ia menulis God Has Many Names, di Indonesia diterjemahkan dalam Tuhan Punya Banyak Nama, terbitan Dian Interfidei, salah satu buku favorit saya). Dalam Irenean, kejahatan bukanlah kondisi negatif jatuhnya manusia ke dalam dosa, namun justru sebagai syarat mutlak bagi perkembangan manusia menuju kedewasaan, baik moral maupun spiritual. Manusia dibiarkan bebas, berjuang sendiri, agar tumbuh dewasa, menuju kesempurnaan (pada pembahasan Irenean ini saya tidak menemukan jawaban: lalu Tuhan sengaja menciptakan kejahatan sebagai ujian itu, atau tidak ada terma kejahatan dalam konsep Tuhan yang ada hanya ujian karena pada dasarnya semua yang Tuhan ciptakan itu baik, atau bagaimana?)

Teodise Whiteheadian lebih condong pada teodise kedua, Irenean, yang melihat bahwa kejahatan ada untuk membuat manusia lebih dewasa. Perbedaannya, Irenean melihat antara Tuhan dan manusia terdapat jarak, menanti manusia menghadapi ujian hingga akhirnya bebas dan sadar memilih-Nya sebagai Tuhan. Sementara Whiteheadian menganggap Tuhan juga ikut dalam penderitaan manusia. Tuhan yang solider, ikut menanggung rasa sakit dan duka seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Kejahatan merupakan konsekuensi logis dari adanya dunia ciptaan yang bebas, punya kekuasaan otonom dalam mendefinisikan atau menentukan diri sendiri. Kebebasan inilah yang memungkinkan ciptaan menolak tawaran cita-cita awali Tuhan, dan akhirnya memunculkan kejahatan. Konsep kemahakuasaan Tuhan, bukanlah kemahakuasaan mutlak dalam mengontrol segala sesuatu. Hal ini berangkat dari cara pandang Whitehead bahwa Tuhan bukanlah penyebab segala sesuatu dari ketiadaan, sebagaimana yang diyakini kebanyakan orang. Whitehead memahami Tuhan sebagai dasar utama pembatasan (the supreme ground of limitation), Tuhan dialami sebagai entitas aktual yang hadir bagi pengalaman entitas aktual lain (dunia dan seisinya).

Whitehead memang tidak membicarakan Tuhan sebagai upaya untuk membuktikan eksitensinya (well…) namun dari penjelasannya tentang konsep Tuhan, mungkin berguna bagi beberapa orang yang sedang mempertanyakan kehadiran-Nya. Bagi saya sendiri? Hmm.. Yang jadi pertanyaan saya adalah, salahkah manusia yang melakukan kejahatan jika memang Tuhan membiarkan manusia melakukannya? Bagaimana dengan manusia yang tidak bisa mencapai cita-cita awali Tuhan sampai pada akhir hidupnya? (karena saya mengasumsikan teodise-teodise itu didasari tradisi Kristen, tentu tidak mengenal konsep reinkarnasi dalam perjuangan manusia menuju kesempurnaan). Well, sis and bro, kita masih harus banyak belajar!

jika-ada-tuhanData Buku

  • Judul             : Jika Ada Tuhan Mengapa Ada Kejahatan
  • Penulis          : Emanuel Bria
  • Penerbit        : Kanisius
  • Cetakan        : 2008
  • Tebal            : 95 hlm

Oleh-oleh Workshop Kantor Berita

Posted March 1, 2009 by galink
Categories: human rights

Dua hari yang lalu, saya ikut workshop. Rencananya lembaga tempat saya kerja mau mengembangkan kantor berita. Agak menyesal saya datang terlambat karena harus memfasilitasi sebuah forum dulu, karena begitu saya nongol,  sesi sudah mulai dengan pembicara Bang Ashadi Siregar. Tak apalah.. Kantor berita yang akan kami kembangkan adalah kantor berita dengan perspektif HAM, kesehatan reproduksi, seksualitas, dan gender. Yah.. karena kami kecewa dengan pemberitaan di media mainstream yang kebanyakan bias gender, diskriminatif, melanggengkan stigma, dan macam-macam lainnya. Di akhir sesi hari pertama kami diberikan masing-masing sebuah berita yang diambil dari berbagai macam sumber, yang dianggap masih stigmatif dan diskriminatif. Tugas kami adalah menganalisa berita tersebut.

Saya kebagian berita dengan judul “106 ABG Diciduk Polisi” (Buset.. dari judulnya aja udah ketahuan tuh berita kayak gimana). Ceritanya, di berita itu, ada sebuah cafe yang diduga sedang melangsungkan pesta miras. Datanglah polisi. Gak dapet bukti ada pesta miras, ujung-ujungnya, remaja (ABG? Baru Gede mulu kapan gede benernya?) ini dimintain kartu identitas. Karena pada gak bawa, ditangkaplah mereka. Lha.. ya kontradiksi.. katanya ABG, tapi kok mesti punya kartu identitas? Kartu pelajar maksudnya? Ada aja… Kesannya tuh polisi emang nyari-nyari..  Nah kok ya jurnalisnya juga tetep aja nulis berita kayak gitu. Ganti kek pake judul “Tidak Jadi Operasi Miras, Polisi Razia Kartu Identitas Biar Ada Kerjaan” (judul apaan nih panjang betul), terus jadiin cerita dodolnya para polisi itu buat berita. Tapi ya.. tar jurnalisnya yang malah ditangkap. Atau nggak, belum-belum redakturnya udah mencak-mencak gara-gara beritanya gak “seksi”. Susah ya para jurnalis itu..

Kalau ingat prinsip pertama dari 9 Prinsip Jurnalisme yang berbunyi: Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Sayangnya, kebanyakan jurnalis memaknai point ini dari sisi kebenaran empiris dan legalitas saja (begitu kata Bang Ashadi). Artinya, jurnalis melihat bahwa ada sebuah fakta dan bagaimana kaitan dengan hukum positif yang ada. Padahal, ada kebenaran lain yang lebih universal, yaitu kemanusiaan. Ketika berita tentang razia terhadap perempuan pekerja seks, misalnya, jurnalis melihat bahwa ada fakta tentang razia tersebut, dan bagaimana pekerja seks telah melakukan pelanggaran hukum dan norma sosial. Akhirnya berita yang muncul  semakin memojokkan posisi perempuan pekerja seks, tidak berusaha untuk menampilkan sisi yang lebih manusiawi. Secara teknis, kemanusiawian ini bisa ditampilkan dari pemilihan kata yang tidak bias, tidak menghakimi, dan sebagainya. Lebih dalam lagi, tentu bagaimana membuat pemberitaan menjadi berimbang, dari sisi narasumber, dari aspek yang digali, dan semacamnya (wah wah.. berasa gampang aja jadi jurnalis itu..). Bukan hanya mencari narasumber dari pelaku razia (polisi, satpol PP, dkk) dan melihat dari cara pandang mereka saja.  Toh, prinsip kedua jurnalisme adalah: Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat, yang berarti bukan pada pihak tertentu, apalagi penguasa.

Saya sempat berpikir, mungkin ada banyak jurnalis yang mencoba menulis dari sisi ini, sisi yang lebih manusiawi. Tapi mungkin nanti dianggap beritanya tidak netral, lebih memihak kelompok tertentu, tidak sesuai norma, dan lainnya. Atau ada yang berusaha netral tapi kesulitan melepaskan diri dari doktrin yang sudah berkembang di masyarakat. Sama kasusnya dengan  ilmu pengetahuan. Sepertinya, tidak ada yang bisa benar-benar netral. Para ilmuwan misalnya, tetap saja senetral-netralnya menyusun teori tetap ada pengaruh lingkungan sosialnya. Ujung-ujungnya, teorinya malah menguntungkan beberapa pihak dan merugikan lebih banyak pihak lainnya.

“Bu, Aku Payu KR Siji!”

Posted February 28, 2009 by galink
Categories: human rights

Siang itu saya sedang terburu-buru mengendarai motor menuju kantor. 8.. 7.. 6.. countdown lampu hijau di perempatan Galleria Mall membuat saya semakin buas demi tak tertahan lampu merah. Tiba-tiba motor di depan saya ngerem mendadak. Beruntung, saya juga sigap, segera mengerem, dengan dongkol dalam hati. Geram rasanya karena saya akan ketinggalan lampu hijau dan siap-siap nongkrong di lampu merah dengan sengatan matahari. Sial. Rasa kesal saya segera sirna begitu tahu alasan si pengendara motor depan saya itu ngerem mendadak. Seorang anak kecil, berusia kira-kira 4 tahun, tiba-tiba nongol di depan motornya sambil membawa beberapa lembar koran, sambil berkata pada seorang ibu yang sedang duduk di trotoar.

“Bu, aku payu KR siji!” (Bu, aku berhasil ngejual KR -koran di Jogja- satu!)

Deg. Beruntung saya tidak jadi mengumpat-umpat. Beruntung saya berhasil ngerem. Beruntung saya dulu tidak harus bertelanjang kaki berjualan koran di jalanan saat matahari sedang terik-teriknya.

Bagi si anak, berhasil menjual satu koran saja mungkin sudah menjadi hal yang membahagiakan.

Enak sekali si ibu (entah ibu kandungnya atau ibu apanya), tinggal menyuruh anaknya jualan koran, dia ambil untungnya. Eh, tapi bagaimana kalau sebenarnya si ibu yang jualan koran cuma karena tiba-tiba kakinya pegal, si anak lalu merasa mendapat “mainan baru” jualan koran? Atau bagaimana jika ternyata si ibu itu pelaku trafficking? Bagaimana jika ia adalah seorang ibu yang tidak tahu soal hak anak, yang penting bisa nyari duit buat makan sambil bawa anak, syukur-syukur anaknya bantu…

Saya mendukung ketika hidup di jalanan adalah pilihan, bagi mereka yang sudah bisa memilih. Remaja dan orang dewasa saya asumsikan sudah memiliki kemampuan ini. Kesalahan Negara adalah pada perlindungan bagi mereka yang memang memutuskan untuk hidup di jalanan. Yang terjadi kan justru mereka dianggap mengganggu ketertiban atau apalah.. yang katanya itu dipermasalahkan oleh masyarakat (masyarakat yang mana?) Lalu mereka ramai-ramai ditangkap, katanya mau dibina segala macam, tapi yang terjadi justru kekerasan.

Ketika saya melihat anak-anak hidup dan bekerja di jalanan, kekesalan saya terhadap Negara makin menjadi-jadi. Awalnya, seperti kebanyakan orang, saya salahkan orang tua mereka. Kok ya ada orang tua yang tega membiarkan anaknya bekerja di jalanan saat teman-teman sebayanya asik menggambar di kelas terus main ayunan saat istirahat? Kok ya ada orang tua yang tega minjemin anaknya buat digendong kemana-mana demi mengetuk hati para pemakai jalanan? Tapi kemudian, saya sadar bahwa ada sistem sosial (mulai nih…) yang membentuk pola seperti ini. Pemiskinan yang dilakukan oleh Negara telah membuat individu-individu mengambil jalan pintas penuh resiko, bekerja dan mempekerjakan anak-anak mereka di jalanan. Pemiskinan ini ya bisa dilihat dari bagaimana Negara tidak bisa menyediakan lapangan kerja, Negara tidak bisa menyediakan pendidikan gratis yang adil dan merata. Parahnya, mungkin tidak sadar bahwa kondisi ini hasil karya mereka,  selain mengebiri hak-hak mereka yang lainnya (hak layanan kesehatan misalnya), Negara malah dengan angkuhnya membuat serangkaian aturan yang mendiskriminasi mereka, yang tidak mengijinkan mereka menjejakan kaki di jalanan lagi. Misalnya dalam KUHAP Pasal 505, ada  ancaman kurungan maksimal 3 bulan untuk orang yang melakukan penggelandangan di tempat-tempat umum.

Lha.. kalau mengutip kata-kata dalam Untitled (Video Komunitas Remaja Jalanan Minority, 2008),

“Negara miskin kok ngelarang rakyatnya miskin?!”

Kalau Negara pinter, para orang tua yang mencari nafkah di jalan ya gak cuma dikasih ceramah ini itu, tapi coba deh dikasih keterampilan. Tidak berhenti sampai di sana, ajarin juga cara pemasaran, cara memutar modal, mengelola keuangan. Nah, anak-anaknya disekolahin pakai uang Negara yang banyak dikorup itu. Katanya “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara (UUD 45 Pasal 34 ayat 1)” ? Kalau saya sih pengalamannya melihara kucing, saya kasih makan rutin pagi siang malam (untungnya saya nggak budek, jadi kalau saya lupa ngasih makan saya bisa dengar kucing saya mengeong-ngeong kelaparan), saya belai-belai (dijewer sedikit kalau maling ikan), saya kejar kucing lain yang suka ganggu kucing saya (bukan saya kejar kucing saya sendiri, kecuali lagi kalau kucing saya berhasil maling ikan), pernah suatu kali punggungnya robek gara-gara berantem, saya juga yang bawa dia ke dokter, ngobatin lukanya tiap hari sampai si kucing bisa main-main lagi. Senakal apapun kucing saya, karena biasanya saya melihara kucing anaknya kucing-kucing saya sebelumnya, atau saya ambil kucing lain, dua-duanya jelas bukan keinginan si kucing, jadi ya saya merasa bertanggung jawab atas kehidupan peliharaan saya

Apa Jenis Kelamin Anda?

Posted February 26, 2009 by galink
Categories: sexuality

Tags: , , ,

Pertanyaan status jenis kelamin kita biasa kita temukan saat mengisi hampir semua formulir yang harus kita isi. Tentu yang dimaksud ya berdasarkan alat kelamin alias organ reproduksi kita. Yang berpenis, bertestis ya berarti laki-laki, yang bervagina, berovarium, ya silakan menuliskan Perempuan atau melingkari huruf “P”.
Sesederhana itukah? Bagi sebagian besar orang, iya. Tapi tidak bagi yang lainnya. Ada yang berpenis dan bertestis tapi merasa dirinya perempuan, demikian sebaliknya. Ujung-ujungnya, “ya sebutkan saja sesuai dengan alat kelamin yang dimiliki!” Eits, ternyata bagi sebagian yang lain hal ini juga masih menjadi sesuatu yang membingungkan ketika tidak disediakan pilihan yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

Kita mengenal istilah hermaphrodite. Walaupun sering kali istilah ini lebih banyak dibahas dalam pembahasan dunia fauna, hermaphrodite juga berlaku bagi manusia.

Secara sederhana, hermaphrodite berarti memiliki dua alat kelamin. Bisa jadi salah satunya tidak berkembang secara sempurna, atau mungkin keduanya. Baru sore tadi saya dapat informasi kalau istilah hermaphrodite terdiri dari 3 jenis, pertama Herma, yang digunakan untuk mereka yang memiliki testis dan ovarium. Kedua (istilah lain yang baru saya dengar), adalah Verma, yang digunakan untuk mereka yang memiliki ovarium dan organ reproduksi laki-laki selain testis. Ketiga (istilah yang juga baru saya dengar) adalah Merma, yang digunakan untuk mereka yang memiliki testis dan organ reproduksi perempuan selain ovarium. Yang menjadi pertimbangan adalah adanya testis dan ovarium, bukan penis atau vagina (saya sendiri masih mencari informasi yang akurat mengenai hal ini, karena sepengetahuan saya, istilah hermaphrodite sudah diganti dengan istilah Intersex yang selain bermakna lebih positif, juga melingkupi keunikan seksualitas manusia secara fisik, baik itu yang tampak dari organ reproduksi maupun keunikan kromosom. Bagi yang punya informasi lebih dalam, jangan sungkan berbagi hehe..)

Saya lalu berkata pada kawan saya, “Wah, kalau istilah itu besok diterima universal, berarti pilihannya: P/V/H/M/L, gak cuma P/L ya? Seru tuh!” (Atau mungkin P/I/L jika istilah Intersex dianggap cukup mewakili keberagaman lain seperti yang sudah saya sebutkan di atas) Kawan saya tersenyum geli. Ia lalu mengomentari pencantuman identitas Waria dalam pilihan jenis kelamin di KTP. Istilah Waria yang dianggap sebagai kelompok Transgender ini diakui sebagai sebuah identitas di Papua pada tahun 1998 dengan dicantumkannya “Waria” dalam kolom di KTP. Transgender bukanlah isu tentang jenis kelaminmu apa, tapi apa identitas gendermu. Gender tidak sama dengan Seks, walaupun kedua istilah itu sering dipertukarkan secara salah kaprah . Jika yang dimaksud di KTP dengan Jenis Kelamin adalah Seks, pengakuan identitas Waria jadi nggak nyambung donk? “Berarti di KTP ditambahin lagi: Identitas Gender, ada P/L/W.. dan.. transgender FtoM.” Saya lalu berkomentar, “jadinya KTP kita penuh banget! Kalau kayak gitu mending di KTP nggak usah pake jenis kelamin aja kali ya..”

Tanpa menafikan bahwa perjuangan pengakuan identitas Waria di KTP adalah untuk menunjukkan pengakuan Negara terhadap eksistensi waria dan menunjukkan seksualitas itu tidak biner laki-laki dan perempuan, saya pribadi jadinya memang menganggap pencantuman jenis kelamin di KTP menjadi tidak penting karena begitu beragamnya seksualitas manusia, sementara KTP (dan otak di baliknya) tidak bisa mengakomodir keberagaman tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada pencantuman agama, di Indonesia jelas hanya dibatasi agama-agama tertentu. Agama lain? Silakan pilih yang mendekati, suka-suka deh, atau sebut saja aliran kepercayaan. Pokoknya pilih yang sudah-kami-cantumkan-di-formulir! Di negara lain yang lebih maju seperti apa sih KTP nya? Apa jenis kelamin dan agama juga masih dicantumkan?

“KTP? Di negaraku tidak ada kartu identitas seperti itu,” kata kawan saya dari New Zealand, Emily, saat saya dan kawan-kawan dulu juga pernah mendiskusikan hal ini.

Saat Hujan..

Posted February 16, 2009 by galink
Categories: Uncategorized

Saya masih di kantor..

Biasa, jadi penghuni terakhir

Tiba-tiba hujan deras sekali dan saya repot mesti tutup pintu dan jendela takut ruangan kecipratan air. Eh, ternyata, di parkiran samping ruangan saya ada seorang ibu yang sedang berteduh bersama sepeda tuanya. Deg.. entah, setiap melihat perempuan paruh baya seperti itu, saya lalu teringat perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkan saya yang saya panggil “mama”.

Tidak, mama saya tidak bersepeda tua kemana-mana

Tapi mungkin ia pernah berteduh entah dimana saat hujan deras di perjalanan

Yang pasti ia yang selalu saya cari saat hujan deras disertai sambaran petir

Yang selalu saya cari saat listrik tiba-tiba mati dan saya menangis ketakutan

Yang membawakan lilin kecil walaupun tanpa nyanyian nina bobo

Kok saya kangen?

Saat saya silau dengan keadaan orang lain, Ia  selalu mengingatkan… “Jangan lihat ke atas, lihat ke bawah kamu.. sekeliling kamu..”

Saat saya berkeluh kesah tentang nasib,  Ia selalu mengatakan, “Hidup itu selalu berputar.. Kalau sudah pernah di atas, ya sekarang saatnya di bawah..”

Saat saya menentukan nasib, Ia selalu memberi semangat, “Ya, Mama cuma bisa mendoakan…”

Biasa menjadi tak biasa karena orang yang mengucapkannya bukan orang biasa-biasa, setidaknya bagi saya, Ia adalah orang yang luar biasa.

(lho kok lama-lama blog saya isinya curhat…)

Kerja di LSM (?)

Posted February 14, 2009 by galink
Categories: Uncategorized

Tags: ,

“Kerja dimana?”

“LSM.”

“Kerja kok di LSM?”

Beberapa kali pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya. Dari teman, keluarga, atau orang yang baru saya kenal di dalam kereta. Biasanya saya jawab, ya karena saya juga harus masuk tiap hari (meskipun gampang buat bolos), ada yang saya kerjakan (kadang lembur, kadang hanya becanda dengan kawan-kawan di kantor), dan ada pendapatan juga (walaupun sering merasa iri dengan teman yang kerja dengan gaji berjuta-juta).

Pertanyaan selanjutnya, “Kenapa kerja di LSM?” Untuk menghemat perbincangan, saya jawab saja, “Malas kerja kantoran.” Hehe.. Saya dulu pernah membuat list enaknya kerja di kantoran, salah satunya adalah kelenturan kerja di LSM. Mana bisa kerja kantoran (eh, saya juga kantoran dink.. maksudnya kantoran di pemerintah atau perusahaan) masuk kerja jam 11 siang, pake kaos oblong dan sendal jepit? Haha..

Idealisme. Sebenarnya, mungkin itu yang mendorong saya untuk kerja di LSM (saya tegaskan, “mungkin”, karena saya sendiri kadang masih menempatkan alasan “malas kerja kantoran” di urutan pertama). Di sini, mata saya terbuka begitu banyak orang yang tertindas karena sistem (stop! malah jadi diskusi berat). Bagi saya, yang ideal adalah, semua orang mendapatkan haknya. Dan cara mewujudkan idealisme tersebut ya dengan bekerja di LSM.

Baru kemarin-kemarin saya berpikir, kalaupun saya ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, apa iya saya harus kerja di LSM? Bisa juga tho saya bekerja di tempat lain, sambil menyebarkan isme saya, dan melakukan sesuatu yang ada gunanya buat masyarakat? Saya coba membayangkan, saya bekerja kantoran, berangkat jam 8 pagi, pulang jam 4-5 an.. mungkin masih lembur.. apa saya masih sempat?

Beberapa hari lalu saya SMS an dengan relawan baru, soal idealisme dan amanah (hah??).  Kami berbeda pendapat soal “amanah”.  Saya bilang, kalau ideologi itu ya berhubungan juga dengan cara kita melihat amanah tuh seperti apa. Bagi saya, menjalankan amanah ya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk menolong orang lain yang masih tertindas. Kalau tidak salah, yang saya pelajari dulu, amanah bagi manusia adalah menebarkan kebajikan dan kebenaran di muka bumi. Bajik dan benar menurut siapa? Kalau kata kaum fundamental mungkin ya, “Menurut Tuhan, seperti ada dalam Kitab!” Nah, saya balik lagi.. Memangnya, kitabmu berbicara tentang apa? Benarkah penafsirannya selama ini? Apakah memang itu yang Tuhan inginkan? Belum lagi kalau urusannya sama kaum Agnostik dan Atheis.. walah.. tambah repot. Maka, bajik dan benar menurut saya ya yang tidak saling menyakiti, merugikan satu sama lain, semua orang dapat hidup dengan nyaman.